Kamis, 31 Maret 2011

0
Pemikiran Gus Dur (1)


Lain Jaman, Lain Pendekatan

Oleh: Abdurrahman Wahid
Persoalan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih terus dibicarakan orang. Walaupun KH. M. Sahal Mahfudz telah berusaha sekuat-kuatnya menjelaskan, namun tidak berhasil menenangkan masyarakat, bahkan MUI-pun menjadi sasaran guyonan masyarakat banyak. Bahkan ada yang menyatakan, MUI adalah singkatan Majelis Uang Indonesia. Contoh plesetan yang tidak menggelikan ini, sebenarnya menggambarkan perasaan masyarakat yang berang terhadap ‘kesalahan' MUI. Bahkan sikap salah seorang ketuanya yaitu KH. Ma'ruf Amin yang menyatakan ia optimis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mendukung MUI dalam hubungan dengan melarang gerakan Ahmadiyah Indonesia, dirasakan sebagai sikap arogan dan tidak bertanggung jawab.

Bukan hanya penulis, yang melihat masalahnya dari sudut konstitusi, tapi orang-orang seperti Dr. Azyumardi Azra, Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif (yang disegani orang karena sikapnya yang hati-hati), dan Dr. M. Syafi'i Anwar, semuanya menolak fatwa MUI itu. Bahkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang ada di lingkungan MUI dihadapkan kepada reaksi marah dari para anggota Muhammadiyah sendiri, termasuk ketuanya Din Syamsuddin. Bahkan seorang tokoh Muhammadiyah yang berpengaruh besar seperti Prof. M Dawam Rahardjo berpendapat, menuntut supaya MUI dibubarkan saja. Kira-kira menurut pendapat penulis, karena sikap MUI terhadap minoritas seperti GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia). Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, memahami benar bahwa GAI dilindungi oleh konstitusi kita, betapapun kita berbeda pendirian dengan mereka.

Sedangkan argumentasi orang-orang yang tergabung dalam usaha pelarangan atau yang mendukung argumentasi untuk melarang GAI itu, adalah bahwa Saudi Arabia melarangnya. Namun dilupakan Saudi Arabia adalah sebuah negara Islam, sedangkan Republik Indonesia bukan. Kita adalah sebuah negara nasional yang berlandaskan Pancasila, karena itu dapat menerima perbedaan apapun dalam faham kenegaraan (kecuali komunisme dalam pandangan sejumlah orang). Jika kita larang GAI, karena berbeda dari pendapat doktriner sebagian besar kaum muslimin di negeri ini, konsekuensinya kita juga harus melarang pandangan-pandangan kaum Kristen dan Katholik, Buddha, Hindu dan lain-lain. Bukankah keyakinan mereka juga tidak sama dengan keyakinan keimanan mayoritas kaum muslimin?

Maka dapat dipahami ‘kemarahan' orang terhadap fatwa MUI itu. Karena bukannya menolong pemerintah untuk mencarikan jawaban terhadap keadaan yang ‘mengharuskan' pencarian solusi bagi krisis multidimensi yang sedang kita hadapi, atau setidak-tidaknya menahan diri dari setiap tindakan yang memperburuk hubungan antara kita, fatwa MUI itu justru membawa masalah baru dalam hubungan antara berbagai agama di negeri kita. Pandangan serba sempit yang dimiliki MUI itu akan merugikan seluruh komponen bangsa.

Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita memiliki kewajiban agar apapun perbedaan pendirian kita, kita harus hidup bersama dalam satu ikatan. Bahwa perbedaan demi perbedaan yang ada, seharusnya mendorong munculnya sikap yang arif bijaksana, bukannya sikap yang membuat hubungan yang ada menjadi semakin buruk, seperti pendapat MUI yang menimbulkan reaksi yang begitu keras.

Memang pada akhir-akhir ini kita melihat bahwa di lingkungan gerakan-gerakan Islam mulai muncul ‘hal-hal tidak sedap', seperti munculnya sikap lebih keras di kalangan kaum muslimin, untuk memunculkan ‘kelebihan' ajaran-ajaran agama Islam di atas berbagai ajaran agama-agama lain. Sebenarnya unutk memenuhi ‘kebutuhan' akan hal itu, justru diperlukan kearifan untuk menahan diri di kalangan para pemimpin Islam sendiri.

‘Salah baca' para pimpinan MUI justru berakibat pada reaksi berlebihan dari kaum muslimin sendiri. Kalau saja hal ini disadari oleh para pemimpin MUI, tidak akan terjadi apa yang kita saksikan minggu lalu itu, yaitu penyerangan sejumlah Masjid Ahmadiyah. Para pemimpin MUI justru melupakan sebuah kenyataan penting berupa rumusan ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu "Telah Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal" (I nna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja'alnakum syu'uban wa qabaila li ta'arafu). Dan sikap dasar dari ketentuan Tuhan itu adalah "Dan berpeganglah kepada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah" (wa'tashimu bi habli Allah jami'an wa la tafarraqu).

Sikap dasar ini juga merupakan antisipasi terhadap kenyataan akan masa depan agama Islam dan kaum muslimin, seperti telah terbukti dewasa ini yaitu Islam merupakan agama besar, tanpa mengecilkan agama-agama lain. Inilah yang belum disadari oleh para pemimpin MUI maupun para pemimpin berhaluan keras yang ada di kalangan kaum muslimin sendiri pada saat ini. Sikap-sikap keras yang kita lihat masih ada di kalangan kaum muslimin mudah-mudahan akan hilang melalui pendidikan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih intens.

Bisa kita gambarkan upaya para pemimpin muslim di masa lampau, seperti Sir Sayyed Ahmad Khan di India dan Mohammad Abduh di Mesir. Di masa lampau, mayoritas kaum muslimin pada waktu itu bersikap keras pada orang lain, karena memang kolonialisme masih merajalela. Karena itu sikap toleransi yang mereka perlihatkan dianggap sebagai tindakan ‘menyerahkan diri' kepada agama lain. Tetapi pendidikan dan komunikasi yang berkembang antara kaum muslimin dan pihak-pihak lain, membuat kita menyadari bahwa memang diperlukan kearifan dan kebijaksanaan dalam hal ini.

Hanya saja di kalangan orang-orang yang berpengetahuan agama Islam tidak cukup mendalam, justru terjadi kecurigaan yang berlebih-lebihan terhadap orang lain, yang menonjolkan perbedaan-perbedaan yang ada, bukannya mencari titik temu antara Islam dengan agama-agama lain itu. Karena itulah, timbullah reaksi yang mengacu kepada penggunaan "bahasa kekerasan" dari Islam terhadap agama-agama lain. Inilah sisa-sisa warisan lama yang harus kita rubah melalui pendidikan dan komunikasi antar golongan. Ini berarti terhadap keadaan yang berubah, respon kita juga harus mengalami perubahan pula. Perubahan respon ini adalah kewajaran dalam perkembangan manusia, bukannya keadaan yang harus diteruskan dari generasi ke generasi. Tanpa memahami "keharusan sejarah" ini maka dapat berakibat fatal bagi diri kita sendiri, minimal bagi peranan kita dalam kehidupan bersama. Jawaban yang tepat hanya diperoleh mereka yang memahami keadaan secara tepat pula.

Apa yang dikemukakan di atas hanyalah sebagian saja dari begitu banyak hal-hal rumit yang dihadapi oleh kaum muslimin. Tetapi merespon dengan sikap keras merupakan sesuatu yang tampak dengan segera dalam pandangan bangsa ini. Mengapa? Karena kaum muslimin tidak hidup sendirian di sini, melainkan ditakdirkan oleh Allah untuk hidup bersama-sama dengan orang-orang beragama lain. Bahkan kaum muslimin sekarang ini harus hidup dengan mereka yang tidak ber-Tuhan, atau mereka yang memiliki kerangka etis yang lain, seperti kerangka dari ‘masa lampau'. Ini adalah bagian dari upaya melestarikan dan membuang yang senantiasa terdapat dalam proses sejarah umat manusia, bukan?

Jakarta, 2 Agustus 2005

1
Kumpulan Anekdote, Joke dan Humor Gus Dur (3)


Alkisah di satu waktu pertengahan tahun 2008,Sang Malaikat Pencabut Nyawa (lazimnya disebut malaikat Izrail), yang sedang duduk duduk diberanda Pintu Neraka, mendapat pesan langsung dsari bumi, yang berupa doa dari para manusia di negeri bernama Indonesia. Doa yang pertama datang dari sekelompok orang yang mengaku dari Golongan Islamis.
Doa mereka begini ” Wahai Izrail, kami mohon padamu untuk sesegera mungkin mencabut nyawa saudara kami yang bernama Gus Dur…soalnya asem banget dia, masak dia bilang kami ini sesat karena kami mencoba membawa kembali ke jalan yang benar para saudara saudara kami yang salah jalan… belum lagi dia juga hoby banget ngejailin pemimpin kami, yang bernama Habib Rizieq… kok bisa tega nian dia berpolitik sampai menjebloskan Habib ke penjara Mabes Polri itu,ya Izrail… makanya Iz…, tolonglah cabutlah segera nyawa manusia bernama Gus Dur ini…”
hmmmm….Izrail menerima pesan dan berkata ” message noted”. Kemudian tak lama kemudian datang lagi doa dari kelompok kedua, yang mengaku ngaku sebagai Kelompok Nasionalis… Doa mereka begini ” Wahai Izrail, manusia presiden manakah yang tega nian melambaikan tangan pada rakyatnya diluar istana sementara ia hanya dengan menggunakan celana kolor dan sendal jepit dari dalam Istana Negara?…padahal dia itu Presiden kami…kan jadi malu kami sama warga dunia…mereka bilang, tuh liat Indonesia, presidennya aja pake kolor…makanya Iz, tolong segera diselesaikan saja manusia bernama Gus Dur ini… jadi rusak kami punya kenecisan yang dulu sudah susah payah kami bangun sejak presiden pertama kami yang guanteng dan necis itu..”
hmmmm Izrail menerima pesan doa dan berkata ” ah…memang kurang ajar si Gus Dur ini”. Kemudian disaat Izrail sedang sibuk menimbang2 dan berpikir keras, datanglah doa dari sekelompok orang Yahudi DARI DALAM NERAKA, sebagian diantara mereka adalah mereka yang dulu dibantai oleh Hitler,dkk. Diantara mereka juga tampak DN Aidit.
Mereka mengirimkan doa pada Izrail, bunyinya begini… “wahai Izrail, segeralah kirim saudara kami dan pembela kami yang bernama Gus Dur yang yang saat ini masih berada di dunia, di negara bernama Indonesia itu kedalam neraka sini…Kami di neraka sini sangat merindukan kedatangannya… Kami di Neraka membutuhkan pemimpin yang berani membela kebebasan dan Hak Asasi Manusia sak-bablas bablasnya… soalnya, semenjak Kawan Mao dan Hitler hijrah kesini, kami para Yahudi dan antek komunis, merasa diintimidasi di dalam neraka sini…paling cuma Aidit yang bisa speak speak sedikit… cari aman dia disini…makanya itu ya Iz, kirimlah segera Gus Dur kesini menemani kami, kirimlah dia ke neraka untuk hidup bersama kami disini…”
AKHIRNYA, Izrail yang dari tadi sibuk menimbang2, tadinya kalem2 aja, akhirnya pun bergetar badannya, marah sekali ia mendengar ulah manusia bernama Gus Dur ini.ini Gus Dur di dunia banyak musuhnya, di Neraka banyak pula kawannya… manusia macam apa ini??? kata Izrail. Baiklah , kalau gitu akan kucabut nyawanya sekarang…detik ini juga…
Langsung Izrail turun ke Indonesia, saat itu Gus Dur sedang santai mimpin rapat. Izrail pun bersiap mencabut nyawanya, tapi seharusnya ia menggunakan tangan untuk mencabut nyawa, kali ini, saking keselnya Izrail sama Gus Dur, maka ia memutuskan untuk tidak mengotori tangannya, melainkan ia akan menendang saja pantatnya Gus Dur itu, langsung dari dunia hingga terpelanting tepat masuk ke dalam pintu neraka. Itu rencana awalnya.
Lalu, Izrail bersiap2, mengambil langkah mundur…12 pas…ibarat seorang Michael Ballack…., Izrail pun berlari kencang kearah pantat Gus Dur, dan tanpa ragu2, Izrail menendang pantat Gus Dur keraaass… sekali, dengan target pintu neraka. Tetapi sekejap kemudian, Izrail melongo dan kaget bukan kepalang… apa pasal…??
Oalah…, teryata tendangan Izrail jauh melambung melampaui mistar gawang… Ternyata, Gus Dur yang seharusnya mendarat di pintu neraka, malah melambung jauh…, tubuhnya melambung tinggi melampaui pintu neraka, dan akhirnya gagal masuk tepat bersarang dalam neraka…
Akhirnya Izrail pun sadar, bahwa ia nendang terlalu emosi, saking marah emosiannya sama Gus Dur, tendangannya terlalu kencang, dan hasilnya malah Gus Dur tidak jadi masuk neraka, malah Gus Dur kembali ke dunia, ke bumi Indonesia.
Izrail pun akhirnya pulang ke langit dengan perasaan hampa…dalam hatinya berkata…”gilee ini manusia bernama Gus Dur, kalau malaikat macam gue aja bisa dia bikin emosian, gimana dengan sesama manusia ya…?”
Catatan Penulis:
Pada saat Izrail hendak menendang Gus Dur, saat yang bersamaan Gus Dur sedang memimpin satu rapat malam hari di Kantor DPP PKB. Awalnya tuh rapat berjalan aman aman aje, lantas datanglah Izrail menendang Gus Dur, walhasil meleset,dan sekejab setelah tendangan meleset itu, Gus Dur pun kembali lagi kedlam ruang rapat PKB.
Cuma yang takjubnya, setelah Gus Dur terbang jauh melewati mistar gawang…,eh, mistar neraka, rapat PKB yang tadinya adem ayem, malah jadi runyam kacau balau berujung dengan pemecatan Cak Imin…duh biyuuung…
Mungkin pikiran Gus Dur saat itu begini “weleh..weleh. ..,kalo sempeeeet..aja gue berbuat baik dikit, mungkin tuh Izrail nendangnya jadi gak emosian, dus tendangan penaltinya jadi tepat, dus jadilah gue masuk neraka…Makanya gue harus selalu bikin Izrail emosian..biar gagal terus tendangan penalti dia…”
Makanya…gue pecat ada tuh si Imin…

Bersambung----
Kamis, 17 Maret 2011

0
Gaja Dompak symbol kekuasaan Raja Sisingamangaraja.!



MANGHUNTAL SINAMBELA.

Munculnya cerita-cerita tentang raja ini bukan tanpa sebab. Bila merunut pada silsilahnya dari marga Sinambela, adalah tidak mungkin dia diakui sebagai raja. Hal ini terutama karena hingga kini, sahala sihahaan (hak anak sulung) masih kental dalam masyarakat Batak. Sementara clan Sinambela adalah turunan bungsu, (anak ke 4) dari turunan Tuan Sorba Dibanua. Bila mengacu pada silsilah tersebut, munculnya Manghuntal sebagai raja, memang satu hal yang mencengangkan. Pasti ada sesuatu yang istimewa atas pemuda yang satu ini, sehingga dia diakui sebagai raja. Dari sinilah cerita tentang Manghuntal Sinambela dimulai Adniel Lumbantobing Adniel Lumbantobing sendiri, penulis pertama yang menulis riwayat raja ini, dalam awal tulisannya, merasa perlu memohon maaf dan mengucapkan sejumlah mantra yang bertujuan agar dia tidak dapat kutukan dari sahala raja tersebut. Dan bila memperhatikan pengucapan tonggo-tonggo (mantra) pada awal tulisannya, seolah ada rasa takut dalam dirinya, bila menuliskan sesuatu yang tidak benar mengenai raja tersebut.
Setelah kata-kata mantra, cerita dilanjutkan sekitar kelahiran sang raja. Dimulai dengan kehamilan ibundanya yang sudah lama ditinggal pergi oleh suaminya Raja Bona ni Onan, tanpa diberi nafkah lahir maupun bathin. “Suatu ketika, setelah lelah bekerja di sawah”, demikian menurut Adniel Tobing, “ibu yang malang ini pergi mandi ke sebuah sungai di tengah hutan (harangan sulu-sulu). Dari tempat inilah kehamilannya berawal, konon, tanpa melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki”.
Cerita berlanjut dengan masa kehamilan yang sampai mencapai 17 bulan, menyebabkan banyak orang terheran-heran. Begitu pula ketika si anak lahir, telah mempunyai gigi yang lengkap dan, konon, lidahnya berbulu. Selain itu, pada masa kanak-kanaknya, beliau telah banyak melakukan hal-hal yang menakjubkan, termasuk berbagai mukjizat. Hal-hal seperti itu banyak diceriterakan dalam buku tersebut. Dan aneh memang, diantara sejumlah buku karya penulis orang Batak, buku ini mempunyai rekord tersendiri sebagai buku yang paling banyak di cetak ulang. Banyak buku yang diterbitkan tentang raja ini, mulai dari yang ditulis oleh A. Sibarani, atau H. Moh. Said atau O. L. Napitupulu dan bahkan oleh Prof. DR. W.B Sijabat, diterbitkan hanya sekali dan sesudah itu dilupakan orang.
Akan tetapi diantara seluruh tulisan yang saya baca, tidak satupun yang menulis, tentang siapa sebenarnya Manghuntal dan bagaimana sepak terjangnya hingga diakui sebagai raja. Tulisan singkat ini memuat hal itu, karena kemunculannya sebagai raja membawa akibat yang sangat parah bagi penduduk di Tanah Batak Utara, yaitu perang dengan pasukan Paderi yang dipimpin seorang kerabatnya bernama Pongki Nangolngolan.
Sebelum menjadi raja Batak, dia bernama kecil Manghuntal bermarga Sinambela. Pada masa remajanya, dia telah menunjukkan bakat-bakat kepemimpinan yang luar biasa. Di samping pintar berbicara, dia juga adalah seorang pemberani. Pada masa remajanya, Balige adalah pusat negeri Toba. Pada waktu-waktu yang sebelumnya disepakati, di tempat ini berkumpul para “raja” dari seluruh wilayah tetangga dimana mereka membicarakan banyak hal. Pada waktu mereka berkumpul, banyak pedagang yang datang kesana, menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Balige yang juga berfungsi sebagai kota pelabuhan menjadi sangat ramai.
Akan tetapi, sering terjadi, ketika para pedagang melakukan perjalanan ke Balige, banyak di antara pedagang ini tidak sampai di tempat. Kalaupun mereka sampai, perahu yang mereka tumpangi sudah kosong karena dibajak di tengah danau oleh sekelompok orang dibawah pimpinan Togar Natigor gelar Porhas, yang menjadi pemimpin “bajak danau” di perairan Balige. Dia adalah manusia yang paling ditakuti karena kemampuannya menyerang lawan dengan tiba-tiba. Si korban dapat kehilangan nyawa tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Hal inilah penyebab mengapa orang yang mati tiba-tiba, dikatakan di soro porhas (direnggut porhas) suatu perumpamaan yang mengisi perbendaharan bahasa Batak.
Ulah Porhas ini sangat mengganggu wibawa keturunan Sibagot Nipohan, yang pada masa itu telah diakui sebagai penguasa di Onan Raja Balige. Berkali-kali mereka mendatangi Porhas di Muara dan meminta agar dia tidak mengulangi perbuatannya, akan tetapi dia tidak pernah ambil pusing. Celakanya lagi, mereka balik di ancam untuk tidak campur tangan. Karena ulah Porhas tersebut, keturunan Sibagot Nipohan berupaya untuk menghimpun saudara-saudara mereka dari keturunan Sorba Dibanua. Mereka yakin bahwa, kalau mereka bersatu, Porhas akan dapat ditaklukkan.
Untuk maksud tersebut, pertama-tama mereka mendatangi keturunan Paittua di Laguboti. Walaupun merasa prihatin dengan apa yang terjadi, keturunan Paittua menjawab, “Semuanya bergantung pada saudara yang lain. Kalau mereka sepakat, kami juga akan sepakat.” Demikian kata turunan Paittua. Akan tetapi, sebagaimana ternyata kemudian, keturunan Paittua tidak pernah muncul di Balige sehingga mereka dikatakan sebagai orang na paet lagu. Inilah awal dari nama Paittua berubah menjadi Paettua atau Sipaettua dan nama kampungnya diberi nama lagu-lagu boti (Laguboti).
Jawaban yang sama diterima pada waktu keturunan Sibagot Nipohan mengunjungi turunan Sabungan di Silalahi Nabolak. Karena tidak menerima jawaban yang memuaskan, seorang keturunan Sabungan yang ditemukan sedang menggembala dibujuk dan dinaikkan ke perahu. Anak ini kemudian dibawa ke tempat turunan Oloan di Siogung-ogung .
Melihat anak remaja tersebut yang dikenal sebagai keturunan Sabungan, keturunan Oloan menyambut mereka dengan hangat dan yakin bahwa saudaranya dari turunan Sabungan akan hadir. Rasa rindu karena sudah lama berpisah menyebabkan mereka menyambut tamunya dengan rasa gembira.
Tiba hari yang telah ditentukan, keturunan Oloan hadir di Onan Raja Balige. Mereka disambut lebih hangat lagi. Walau mereka merasa tidak enak karena ketidakhadiran saudara-saudara mereka yang lainketurunan Paittua dan keturunan Sabunganpenyambutan yang begitu luar biasa menyebabkan mereka sungkan untuk mundur. Pada acara marsisungkunan (mempertanyakan maksud pertemuan), keturunan Sibagot Nipohan mengutarakan ancaman yang dilakukan Porhas Siregar. Keturunan Sibagot Nipohan mengusulkan agar mereka secara bersama-sama menghadapi ancaman ini.
Turunan Oloan merasa serba salah. Memberikan jawaban “ya” tidak mungkin, karena mereka telah terikat sumpah untuk tidak mencampuri urusan Sibagot Nipohan. (baca: hal 87 pen.) Memberikan jawaban “tidak” juga tidak mungkin karena sambutan yang begitu bersahabat. Karena itu, untuk menolak, secara halus mereka mengajukan syarat yang, menurut mereka, tidak mungkin akan dipenuhi. Syarat tersebut ialah bahwa, kalau Porhas takluk mereka diakui sebagai raja.
Mengherankan, walaupun syarat itu bertentangan dengan adat kekeluargaan orang Batak ( dan hal itu sengaja dikemukakan dengan maksud agar ditolak) semua turunan Sibagot Nipohan menyatakan persetujuannya. Turunan Oloan menjadi serba salah. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa, apabila Porhas dapat ditaklukkan, walaupun keturunan Oloan adalah anggi di partubu, hak sebagai raja (haha di harajaon) akan diberikan kepada mereka, yang menurut adat Batak sangat tidak lazim.
Jalan untuk mundur bagi keturunan Siraja Oloan pun sudah tidak ada lagi. Waktu mereka pulang, hal itu menjadi bahan pembicaraan. Baho, keturunan sulung dari Oloan, berbicara kepada adik-adiknya dengan berandai-andai: Sekiranya Porhas dapat ditaklukkan, siapakah yang menjadi Raja? Mereka serempak menjawab, “Ba ho Raja” (“Silakan, engkau menjadi raja”). Inilah awal dari nenek moyang marga Naibaho, sebagai keturunan sulung, diberi gelar Baho Raja.
Tiba waktu yang sudah disepakati, keturunan Oloan, dengan sejumlah perahu dan sampan, melancarkan penyerangan ke Muara. Penyerangan tersebut dilakukan keturunan Oloan dari arah Nainggolan, sedangkan keturunan Sibagot Nipohan melakukan penyerangan dari arah Balige. Menghadapi serangan dari dua arah, pasukan Porhas akhirnya kewalahan. Mereka mundur ke Muara dengan maksud melakukan perlawanan di darat. Sesampai di darat, Manghuntal bersama beberapa pengawalnya telah menunggu sambil bersila di tengah halaman. Porhas sangat terkejut karena tidak menduga Manghuntal sudah ada di sana.
Manghuntal mempersilakan Porhas duduk di atas tikar yang sudah digelar. Pasukan Oloan dan Sibagot Nipohan yang mengejar dari danau juga tidak percaya. Mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Ternyata Manghuntal dan Porhas melakukan perundingan. Lewat perundingan, akhirnya dicapai kesepakatan: Mereka berdua, Porhas dan Manghuntal, akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Apabila salah satu kalah, pasukannya dipersilakan untuk meninggalkan tempat dan tidak seorang pun boleh dilukai. Porhas menerima tantangan ini dan yakin akan memenangkan pertarungan dengan mudah, apalagi, orang yang dihadapi adalah pemuda yang masih bau kencur.
Pertarungan pun dimulai dengan disaksikan pasukan kedua belah pihak. Kedua petarung itu dengan kepintarannya masing-masing beradu kuat. Pertarungan kedua jagoan berlangsung lama, akan tetapi karena masih muda Manghuntal menang tenaga. Walaupun Porhas menang pengalaman, sepertinya tidak ada artinya berhadapan dengan Manghuntal yang masih muda. Porhas akhirnya tewas lebih banyak karena kehabisan tenaga.
Melihat kenyataan ini, nyali pasukan Porhas pun ciut. Mereka menyerah, lalu seluruhnya digiring ke sebuah tempat, yang sekarang dikenal dengan nama Lobu Siregar. Dari tempat ini kemudian mereka diusir, tanpa bekal.
Mereka hidup menggelandang. Semula mereka menuju Humbang akan tetapi disana mereka dihadang oleh marga Sihombing. Begitu pula waktu mereka menuju Pahae dihadang oleh marga Sitompul. Dalam perjalanan yang memakan waktu yang lama sebelum tiba di Sipirok yang waktu itu merupakan tanah kosong tidak berpenghuni, kadang kala mereka hanya memakan umbi alang-alang (ri) atau daun pakis (pahu). Sebagai peringatan akan penderitaan yang mereka alami, anak-anak yang lahir dalam perjalanan dinamakan Siregar Ri dan Siregar Pahu.
Penderitaan inilah yang mengakibatkan mereka menaruh dendam terhadap keturunan Sorba Dibanua. Kemudian hari, kesempatan untuk membalaskan dendam muncul, pada waktu pasukan Tuanku Rao datang ke Mandailing. Pasukan dipimpin seorang kerabat dekat R. Si Singamangaraja bernama Pokki Nangolngolan yang juga mempunyai dendam dengan penduduk di Tanah Batak Utara.
Sementara itu, Baho, si anak sulung, menuntut turunan Sibagot Nipohan untuk memenuhi kesepakatan. Turunan Sibagot Nipohan tahu persis bahwa orang yang mempunyai banyak andil dalam perang tersebut adalah Manghuntal. Sibagot Nipohan sepertinya tidak rela apabila hak raja yang mereka sandang berpindah tangan kepada Baho. Karena itu, keturunan Sibagot Nipohan berkelit dengan alasan bahwa, sesuai dengan pesan leluhur mereka yang juga merupakan leluhur OloanTuan Sori Mangarajahak sebagai raja hanya dapat diberikan kepada siapa pun yang dapat mengembalikan barang pusaka leluhur mereka yang sudah lama hilang.(baca: hal 68 pen). Diingatkan dengan pesan leluhur ini, Baho pun terdiam dan sebaliknya pula turunan Sibagot Nipohan merasa nyaman karena hak sebagai raja ijolo tidak berpindah tangan.
Akan tetapi tidak demikian bagi Manghuntal. Alasan tersebut baginya seperti alasan yang dicari-cari. Benar fatwa itu ada, akan tetapi mengapa hal itu tidak dikemukakan waktu mereka bersepakat ? Karena itu dia bertekad untuk mencari barang pusaka tersebut dan akan mengembalikannya kepada yang berhak. Dalam pencarian barang pusaka inilah kembali Manghuntal memegang peranan, yang menyebabkan dirinya mau tidak mau harus diakui sebagai raja. Dia melakukan petualangan ke Barus dimana dia bertemu dengan keturunan Raja Uti. Dalam menghadapi pemuda pintar dan digdaya ini, tidak ada jalan bagi keturunan Raja Uti selain mengembalikan barang pusaka tersebut. Apalagi, sebelum meninggal, leluhur mereka telah berpesan untuk mengembalikan barang pusaka tersebut kepada orang yang berhak. Tentang pengembalian barang pusaka itu sendiri, dmuka telah kita kemukakan ada 2 versi, versi van Dijk dan versi M. Salomo Pasaribu.
Penemuan kembali barang pusaka tersebut, menyebabkan seluruh turunan Tuan Sori Mangaraja sepakat untuk menjadikan Manghuntal Sinambela menjadi raja. Penabalan ini diakui juga oleh kelompok marga lain, yang turut hadir, sehingga tersirat pengakuan Manghuntal sebagai Raja Batak. Penobatan Manghuntal sebagai raja dilakukan di Onan Raja Balige dengan dihadiri hampir seluruh kelompok marga Batak. Kepadanya diberikan gelar Raja Si Singamangaraja. Sumpah anggi di partubu, haha di harajaon menyebabkan keturunan Manghuntal secara turun-temurun diakui sebagai penerus Raja Si Singamangaraja. Raja Si Singamangaraja yang terakhir bernama Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu, yang tewas dalam perang melawan penjajah Belanda.
Bahwa Raja Si Singamangaraja mempunyai banyak keistimewaan, diakui banyak orang. Alis matanya yang lebat menyebabkan sorot matanya seolah-olah dapat menembus uluhati orang yang menatapnya. Sorot mata ini menyebabkan siapa pun tidak berani beradu pandang dengannya. Apabila ada orang yang mencoba berkata bohong, mulutnya akan terkatup rapat dan kakinya akan gemetaran.
Satu hal yang tidak disukainya ialah melihat orang yang diperbudak. Banyak orang yang dipasung terpaksa dia tebus dengan uangnya sendiri. Karena begitu banyak orang yang harus ditebus, dia pernah jatuh miskin dan meminta pinjaman uang dari bibinya yang kawin dengan Ompu Palti Raja. Bosan karena sering dipinjami uang, bibinya marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Karena amarah yang berlebihan, tekanan darahnya pun naik sampai ke ubun-ubun dan akibatnya bibinya tiba-tiba lumpuh dan tidak dapat berbicara. Kejadian inilah yang sering dihubungkan dengan kesaktian Raja Sisingamangaraja. Takut kejadian seperti itu akan terulang, dia memerintahkan agar segala utang judi diselesaikan di tempat. Artinya, tidak seorang pun boleh dipasung hanya karena utang judi. Sejak itu, apabila Raja Sisingamangaraja lewat di suatu tempat, mereka akan buru-buru melepaskan orang yang terpasung.
Zeentgraaf, seorang jurnalis Belanda, memberikan kesaksian tentang peran Si Singamangaraja bagi rakyat pada masa kesulitan. Dalam Java Bode, Zeentgraaf pernah menulis, “Si Singamangaraja was voor de Bataks de grote weldooner, omdat hij veelerlei zegeningen kon brengen aan zijn volk, dat omhem riep in tijden van nood.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah seorang yang besar jasanya bagi rakyatnya karena dia dapat memberikan kebahagiaan pada masa kesukaran.” Masa kesukaran adalah suatu masa ketika terjadi musim kemarau panjang. Pada saat seperti ini, rakyat meminta pertolongan kepada beliau. Beliau kemudian berdoa (martonggo) kepada Mulajadi Nabolon dan meminta agar hujan diturunkan. Beliau dipercayai sebagai orang na siat marpangidoan tu Mulajadi Nabolon. Artinya, doa beliau kepada Tuhannya selalu dikabulkan. Upacara meminta hujan iturun adalah salah satu ujian bagi pengganti pendahulunya, selain menarik piso gaja dompak dari sarungnya. Ini adalah salah satu kelebihan raja-raja penerus, dibandingkan dengan manusia biasa.
Si Singamangaraja adalah priester koning atau raja imam, yang dihormati karena kelebihannya. Seorang intelektual Batak, Dr. F.J. Nainggolan, memberikan analogi yang tepat dalam hal ini. Dalam majalah Parsaoran, beliau menulis, “Allen een figuur, de ene slechts, werd het wel algameen vereerd, en afgodisch vereerd, de figuur van Si Singamangaraja. Geen Batak van ouden stempel, die niet met heilig onzagt de naam Si Singamangaraja, die voor de Batak was gelijk de Pausen in de middle eewen voor de volkeren in Europa.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah satu-satunya tokoh yang umumnya diabdi dan dipuja dengan segala kemuliaan. Tidak ada seorang pun suku Batak pada zaman itu yang tidak dengan khidmat menyebut namanya. Bagi orang Batak, kedudukannya adalah sama dengan paus pada abad pertengahan bagi penduduk Eropa.”
Mengumpamakan Raja Si Singamangaraja layaknya seorang paus adalah analogi yang tepat. Itu terjadi karena Raja Si Singamangaraja bukanlah seorang raja dalam pengertian yang sebenarnya. Beliau tidak mempunyai angkatan bersenjata, tidak mengenakan pajak atau upeti yang harus dibayarkan kepadanya, dan tidak mempunyai pembantu (kawula) seperti layaknya raja-raja di Jawa. Kebesaran Raja Si Singamangaraja tumbuh dengan sendirinya sehingga, ketika menyebut namanya, orang-orang selalu mendahuluinya dengan ucapan: Santabi saribu hali santabi di sangap ni Ompui, Raja Si Singa Mangaraja. Dalam adat masyarakat Batak, ompui adalah gelar tertinggi dan dahulu, inilah yang diberikan kepada Raja Si Singamangaraja.
Itulah pengakuan F.J. Nainggolan, salah seorang intelektual Batak, yang pada zaman itu yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Beliau menikah dengan seorang wanita kulit putih dan salah seorang anaknya bernama W.F. Nainggolan atau lebih dikenal dengan nama Boyke. Boyke Nainggolan adalah perwira TT-I/Bukit Barisan, dengan pangkat terakhir mayor, dan pernah belajar di General Staff and Command College di Forth Leavenworth, Amerika Serikat.

Penghormatan Orang Batak Terhadap Sisingamangaraja


Sejak tewasnya R. Sori Mangaraja III dalam perang melawan Aceh, orang Batak hidup tanpa kehadiran seorang pemimpin. Tidak ada satu orangpun pemimpin yang dapat dijadikan panutan yang punya kewibawaan yang dapat memberikan satu putusan yang adil, bilamana terjadi satu silang sengketa. Tidak ada, yang oleh orang Batak dikatakan sebagai pamuro so mantat sior, parmahan so mantat batahi, si tiop dasing pamonoran, tu ginjang so ra mungkit-tu toru so ra monggal, gambaran dari satu pribadi pemimpin yang adil dan bijaksana.
Tidak adanya pemimpin ini menyebabkan masing-masing kelompok marga mengangkat rajanya sendiri yang dikenal dengan raja mar opat, yaitu 4 orang pemimpin yang diambil dari tetua marga masing-masing. Mereka inilah (yang di aku sebagai raja) bertindak menetapkan berbagai hal dalam kelompoknya, termasuk menyelesaikan silang sengketa. Akan tetapi otoritas mereka sangat terbatas, yaitu hanya dalam kelompok marga mereka sendiri. Hal inilah yang terjadi sampai di tabalkannya Manghuntal Sinambela sebagai raja orang Batak pertama dengan gelar Raja Sisingamangaraja.
Sejak ditabalkan sebagai raja, banyak cerita yang berkembang sekitar raja ini. Cerita-cerita yang menyelimuti dirinya, sejak masih dalam kandungan, masa remaja sampai pada masa kepemimpinannya yang mau tidak mau menyebabkan orang ber-decak kagum. Menurut cerita orang-orang tua, konon dia sering menyamar sebagai orangtua renta, meminta segelas air atau sesuap nasi kepada penduduk. Hal ini dilakukan karena sering terjadi, bila beliau melewati sebuah tempat, penduduk sudah lebih dahulu melepas orang-orang yang terpasung, bahkan melepas burung yang ada dalam sangkar, karena beliau sangat tidak senang melihat mahluk yang ter-aniaya. Kharismanya yang begitu besar, menyebabkan orang tidak berani bertatap pandang dengannya, bahkan untuk menyebut namanya, seseorang harus meminta ma’af lebih dahulu.
Cerita-cerita seperti inilah yang berkembang ditengah masyarakat, sehingga tidak heran, bila seorang C.B. Tampubolon yang lebih dikenal dengan Oppu Boksa II, ayahanda Ir. G.M. Tampubolon pendiri Institut Teknology Indonesia (ITI). Inilah pengakuannya “Pada waktu saya kecil”, demikian cerita Op.Boksa II yang kala itu telah berumur 82 tahun, “saya bermain-main di pasar Balige. Karena hari pekan, suasana pasar begitu ramai. Tiba-tiba suasana menjadi hening, ibarat jarum jatuh pun akan kedengaran. Saya heran lalu dengan susah payah saya menyelinap ingin tahu apa yang terjadi. Jalan di sekitar pasar kosong, sementara di kedua sisi jalan banyak orang berdiri, menatap ke kejauhan. Dari jauh saya melihat seorang penunggang kuda yang berjalan perlahan. Begitu dia lewat, pasar kembali ramai. Saya mencoba bertanya siapa orang tersebut. Tidak ada yang menjawab. Belakangan saya tahu bahwa yang lewat itu adalah Raja Sisingamangaraja”. Itulah cerita C.B. Tampubolon kepada saya pada tahun 1984.

0
Kumpulan Anekdot, Joke dan Humor Gus Dur (2)

Obrolan Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa…
Setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”


“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.


Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.
“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.
“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.


Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat…
“Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.
Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?”
“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.
Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”
Senin, 06 Desember 2010

0
SUDAHKAH BENAR ORANG BATAK MENGHORMATI PAHLAWANNYA????






Minculnya Pertanyaan besar ini , mengingat seringnya orang batak membahas perjuangan-perjuangan bangsa Batak dari sudut kepentingan dan keuntungan kelompok dan bahkan kepentingan diri sendiri. Dan tidak pernah mengulas sejarah demi kepentingan yang lebih luas dan besar seperti kebesaran suku bangsa Batak atau Bangsa Indonesia . Hal ini membuat kerugian besar bagi suku bangsa Batak sendiri.
Dan selalu menghindari keterkaitan sejarah dengan salah satu Agama, sehingga selalu mengklaim Pahlawan sianu adalah agama A atau Agama B. Seharusnya sebagai kita orang Batak yang manikmati hasil perjuangan-perjuangan Para pahlawan mampu mengimplementasikan pengorbanan mereka dalam mencapai kemakmuran, kesejahteraan bahkan keadilan.
Perlawanan yang dilakukan para Pahlawan dari sabang hingga Merauke tidak terlepas dari beberapa factor 1- Kebebasan mengelolah tanah leluhur mereka dibatasi oleh pejajah, misalnya oleh Portugis atau Belanda 2- Kebebasan suku bangsa –suku bangsa Indoneia didalam melaksanakan kebiasaan mereka terutama dibidang Ritual ataupun budaya terkekang.
Jadi kedua factor inilah yaitu TANAH dan BUDAYA terusik maka suku bangsa-suku bangsa Indonesia melakukan perlawanan yang sangat gigih.
Begitu halnya Perlawanan yang dilakukan Pejuang-pejuang Batak dalam melawan Belanda yang terkenal dalam perang Batak, mereka mengadakan perlawanan yang gigih dengan persenjataan seadanya adalah oleh karena terusiknya kebiasaan-kebiasaan atau Budaya/adat Batak didalam ritual maupun keyakinan mereka. Tidak ada hubungan kepentingan Agama didalamnya seperti Agama Islam, Perlawanan yang dilakukan Sisingamangaraja XII dengan tokoh-tokoh Batak lainnya , tidak ada hubungan dengan penyerangan kaum paderi yang bermazhab wahabi kepada Sisigamangaraja X, tetapi situasi ini dipergunakan Belanda untuk melemahkan perjuangan patriot-patriot Batak yang bersatu padu dengan pejuang-pejuang Aceh melawan Belanda ketika itu.
Demikian juga Agama Keristen, sebaliknya Belanda mempergunakan kaum MIssionaris sebagai tameng pendekatan pada rakyat batak yang tidak ikut berperang untuk melunturkan alat pemersatu Batak yakni kepercayaan kepada charisma Sisingamangaraja XII.
Dibawah ini ada kutipan dari tulisan :

Peran Zending dalam Perang Toba.


Laporan Nommensen tertanggal 20-6-1878 waktu ia mendampingi ekspedisi militer Belanda menumpaskan perjuangan Singamangaraja XII.
Publikasi “Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba” menyorot peran penginjil Jerman dari RMG (cikal bakal VEM), terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam Perang Batak Toba ke-I. Pada tahun 1877 para missionaris RMG memanggil tentara pemerintah kolonial Belanda karena mereka merasa terancam oleh pasukan Singamangaraja XII dan karena takut keberhasilan zending akan lenyap bila para misionaris diusir dari Silindung dan Bahal Batu. Panggilan misionaris segera ditanggapi oleh pihak pemerintah. Pada 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja, kediaman penginjil Ludwig Ingwer Nommensen, dan bersama-sama dengan penginjil Nommensen mereka berangkat ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Si Singamangaraja yang merasa terprovokasi mengumumkan perang (pulas) pada tanggal 16 Februari. Pemerintah Belanda dan para penginjil memutuskan agar lebih baik untuk tidak hanya menyerang markas Singamangaraja di Bangkara tetapi untuk sekalian menaklukkan seluruh Toba.
Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda pada perjalanan ekspedisi militernya dari bulan Februari hingga Mei 1878. Puluhan kampung (huta) Batak dibakar dan para raja huta diharuskan bersumpah setia pada pemerintah Belanda dan membayar pampasan perang. Jumlah korban jiwa di pihak Singamangaraja tidak diketahui dengan pasti namun bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan orang. Penginjil Nommensen yang mendampingi tentara penjajah dalam ekspedisi militer mencatat secara akurat kisah berlangsungnya Perang Toba Pertama.
Buku ini ditulis oleh Dr. Uli Kozok dan berdasarkan catatan otentik pihak zending yang untuk pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sabtu, 04 Desember 2010

0
JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH !!!


Bagi Generasi penerus; buatlah sejarah itu menjadi tolak ukurmu apa yang akan dan layak kau perbuat bagi dirimu dan keluarga besarmu. Kalaulah masa lalumu dan keluargamu sangatlah menyedihkan dan memalukan, berusahalah agar kesedihan dan aib itu tidak terulang lagi. Kalaulah masa lalumu dan keluargamu membanggakan, berusahalah tidak menjadi arogan dan menyanjung-nyanjung kehebatan tersebut, yang akhirnya membuat kamu terhanyut arus kelalaian.Tetapi kalau kau sama sekali melupakan atau tidak mengabaikan sejarah, maka kamu akan seenaknya mencaci maki atau sama sekali tidak menghormati pelaku sejarah yang sangat berjasa bagi perjalanan hidupmu.(itu sebagian cuplikan arahan dari orang tuaku).

Tugu Raja TOGA LAUT PARDEDE telah berdiri dengan megahnya dipertapakan perkampungan Raja Toga Laut Pardede dengan anak cucunya yang diwariskan Kakeknya Raja Bona ni Onan Pardede.

Sungguh meriah peresmian Tugu tersebut dan terbilang megah, maklum satu-satunya Tugu keturunan Raja Bona ni Onan yang baru berdiri di bona pasogit BALIGE.
Namun kegembiraan tersebut kadang membuat orang akan lupa dengan sejarah, dan mengagung-agungkan dengan berlebihan pada pelaku sejarah kini.

Setelah Peresmian Tugu Raja Toga Laut Pardede, mulai terdengar kata-kata sumbang terhadap pemerakarsa pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede, setelah pendinamitan Tugu/Tambag oleh pihak TNI dengan alasan untuk membuat lapangan tenns bagi elit-elit TNI dan elit-elit Orang BAlige ketika itu. Pihak keturunan Raja Toga Laut Pardede tidak berdaya untuk melarang ataupun melawan pihak TNI karena pada saat it, sangat Riskan situasi bisa saja dituduh memberontak bila berani melawan pihah elit-elit TNI.
Meskipun demikian ada beberapa orang yang berani melawan tetapi sebatas menangis ataupun menjerit, itupun dilakukan pihak Wanita keturunan Raja Toga Laut Pardede. Sedangkan kelompok Prianya termasuk Panitia Pembangunan Tugu serba salah, yang pasti TNI tidak akan diam bila ada salahsatupun yang berani melawan, Jangankan melawan, membiarkan babinya saja berkeliaran dianggap pemberontak atau melawan kebijakan pemerintah. apakah itu Gunung Pardede, Asmaudin Pardede, Faletin Pardede, serta Marajo Pardede danlainnya tidak dapat berbuat banyak, mereka hanya dapat menolak sikap TNI tersebut dengan menyampaikan keluhan mereka kepada Panglima,


Yang Akhirnya Keluhan Tokoh-tokoh tersebut diatas diterima oleh Panglima saat itu Kol.Manaf Lubis. Sayang Saat pihak TNI akan menyerahkan langsung Rencana pembangunan kembali Tugu Raja Toga Laut Pardede kepada ketua panitia saat itu yaitu Asmaudin Pardede, pihak Bupati Pemda Taput dan TNI, mereka menemukan A.Pardede telah meninggal.Sepeninggal A.PArdede kepanitiaan dilanjutkan oleh Sopar Pardede dan Harun Pardede, yang lain belum ada yang berani terlibatkarena riskan situasi pada saat itu, Kegigihan Sopar Pardede tidak begitu disambut Keturunan Raja Toga Laut Laut lainnya.Mereka dibiarkan berjalan sendiri, hasilnya rencana pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede kembali mentah alias gagal.

Lobe Tinggi Pardede alias Haji Abdul Halim PArdede, sepeninggal anaknya Asmaudin PArdede, mencoba memberi semangat kembali kepada adiknya Pai5(anak jaihutan), dan st Rudol Pardede (janjimaeia, serta anaknya Harun Pardede dan Intan Pardede dan beberapa keturunan Raja Toga Laut Pardede untuk kembali mengadakan pendekatan dengan pihak Pemerintah dan TNI.Kepanitiaan Sopar Pardede dan Harun Pardede, benar-benar tidak berdaya maka dengan demikian mereka menyerahkan kepada haha doli mereka bernama Raja Pondang Pardede untuk mengadakan pendekatan kepada pihak Pemerintah, usaha itupun tidak berhasil juga.


Hingga akhirnya beberapa orang keturunan Raja Toga Laut Pardede yang ada di Jakarta mengambil Inisiatif, dengan dipelopori Djuara Pardede.(Demikian sekilas perjuangan pendahulu-pendahulu dalam kepanitiaan pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede).
Bersambung..........
Kamis, 08 Juli 2010

1
Kumpulan Anekdot, Joke dan Humor Gus Dur (1)








Guyonan Gus Dur Mengandung Kritik Sosial dan Filsafat

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humoris. Ia kerap melontarkan guyonan baik dalam acara santai maupun formal. Terkadang, lelucon yang disampaikan juga berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat.

"Jadi joke-joke itu sendiri memang disenangi oleh masyarakat kita," kata sosiolog UI, Musni Umar, saat berbincang lewat telepon, Minggu (3/1/2010) malam.

Musni menilai, guyonan ala Gus Dur berdampak secara sosiologis pada publik. Kondisi masyarakat yang masih belum bisa menerima kritikan secara langsung, bisa disalurkan lewat guyonan.

Sebagai contoh, salah satu guyonan Gus Dur yang paling terkenal adalah tentang pejabat kepolisian. Saat itu Gus Dur berkata, hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disuap. Mereka adalah mantan Kapolri Hoegeng, polisi patung, dan 'polisi tidur'.

"Joke itu mampu merefleksikan apa yang ada di masyarakat kita sesungguhnya. Ketimbang secara terus terang mengkritik habis-habisan. Ini lebih mengena," urainya.

Guyonan Gus Dur juga diyakini mengandung makna filosofis yang mendalam dalam sendi kehidupan masyarakat. Sepintas, apa yang terlontar dari mulut Gus Dur akan terkesan kontroversial. Namun, apabila difikirkan secara mendalam, ucapan mantan Presiden RI ke 4 itu sesungguhnya bertujuan untuk kebaikan.

"Ada hal-hal yang kontroversial untuk zamannya. Tapi saat kita fikirkan lagi sekarang, ternyata memang benar apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu," paparnya.

Langkah Gus Dur dalam memberi kritik patut ditiru. Terutama oleh para politisi negeri ini. Sindiran dengan cara halus lewat guyonan tidak akan membuat pihak lain tersinggung. Apalagi emosional.

"Dengan cara itu, misi bisa tercapai tapi tidak terasa menyakitkan. Karena tidak mungkin di negara demokrasi tidak ada kritik," pungkasnya.

Apa bedanya Gus Dur, Pak Harto, Bung Karno dan Habibie?


BUNG KARNO = disukai perempuan

PAK HARTO = ditaklukkan perempuan

PAK HABIBIE = disangka perempuan

GUS DUR = digandeng perempuan
BUNG KARNO = bukan militer, tapi penampilan militer.
PAK HARTO = bekas militer, mengembangkan tradisi militer
PAK HABIBIE = dekat militer, dilindungi militer
GUS DUR = bukan militer, tapi punya militer swasta (Banser NU)
BUNG KARNO = memancing wanita
PAK HARTO = memancing ikan
PAK HABIBIE = memancing amarah mahasiswa
GUS DUR = memancing tawa siapa saja
BUNG KARNO = dimanfaatkan komunis
PAK HARTO = dimanfaatkan putera-puterinya
PAK HABIBIE = dimanfaatkan konco-konconya
GUS DUR = dimanfaatkan tukang pijatnya
BUNG KARNO = bingung memilih perempuan.
PAK HARTO = tidak pernah bingung
PAK HABIBIE = berpemampilan seperti orang bingung
GUS DUR = suka membuat bingung orang lain
BUNG KARNO = menciptakan keamanan dan persatuan bangsa
PAK HARTO = menciptakan kemakmuran bangsa dan keluarganya
PAK HABIBIE = menciptakan demontrasi dan perpecahan bangsa
GUS DUR = menciptakan partai kebangkitan bangsa
BUNG KARNO = jarang sekali jalan-jalan
PAK HARTO = suka jalan-jalan>
PAK HABIBIE = bisa jalankan pesawat
GUS DUR = sudah jalan susah, suka jalan-jalan ke Luar Negeri
BUNG KARNO = dapat ilmu dari pengalaman
PAK HARTO = dapat ilmu dari SD>
PAK HABIBIE = dapat ilmu dari Jerman
GUS DUR = dapat ilmu dari langit
BUNG KARNO = prinsipnya : Merdeka atau Mati>
PAK HARTO = prinsipnya : Lebih baik sakit dari pada dipenjara
PAK HABIBIE = prinsipnya : kemajuan dengan penguasaan teknologi
GUS DUR = begitu saja koq repot.....
 
TOGA LAUT PARDEDE | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog