Senin, 04 April 2011

0
Bendera Indonesia punya makna.

"6.000 Tahun Sang Saka Merah Putih"
Prof Moh Yamin



• Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna "zat hidup". Hanya tidak dijelaskan makna "zat hidup". Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.

• Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat. Artefak- artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropologi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.

• Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia. Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?

• Alam rohani dan duniawi
Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana,lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural. Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.

• Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.

Pemisahan "lelaki"-"perempuan" itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau "zat hidup" baru muncul jika pasangan-pasangan dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.

• Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal. Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.

• Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci. Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia. Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.

• Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai pasangan dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama Samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini.

• Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang. "Putih" adalah simbol langit atau Dunia Atas, "Merah" sim- bol dunia manusia, dan "Hitam" simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.

• Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah. Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia "buta warna".

• Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.

• Kehidupan dan kematian
Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, "darah tidak sama", ada darah putih dan darah merah. Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.

• Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian. Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung "zat hidup".

• Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan?Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan. Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.

• Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia. Merah-putih itu "zat hidup", potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh . Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.

• Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa? Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya.
Merah-Putih adalah jiwa Indonesia....

Sri Sultan Hamengkubuwono X



Bendera Merah-Putih, menurut Sultan, memiliki urutan sejarah yang panjang. Bukan hanya produk 17 Agustus 1945, melainkan produk sejak abad XII saat zaman Sriwijya di Palembang dan Singasari sampai ke zaman Mataram, yang dikenal dengan sebutan bendera "Gula Klapa". Bagi orang Jawa, lanjut Sultan, bendera Merah-Putih tak ubahnya seperti sebuah keris, yang merupakan personifikasi atas diri pemiliknya. Untuk itu kemudian muncul kepercayaan, bendera Merah-Putih tidak boleh diletakkan di tanah. "Meskipun sebetulnya tidak apa-apa, tapi orang Jawa jelas tidak akan melakukan itu. Apalagi kalau Merah-Putih dibakar," ujarnya.
Sedangkan dalam masyarakat Jawa pada acara Slametan, Tumpengan dan hajatan khusus, ada sajian Bubur Sengkala (Bubur ketan Merah - Putih ) terdiri : Bubur Putih, Bubur Merah, Bubur Putih di tengahnya Merah, Bubur Merah di tengahnya Putih. Mengandung Filosofi: sama seperti diutarakan di atas, Putih artinya asal kehidupan, yakni sebelum manusia lahir berasal dari Sana, Kemudian ada Dunia/Bumi (merah) tempat manusia lahir, melalui pertemuan "Bapak" dan "Ibu" kita ada ,simbolnya Putih yang dalamnya Merah (waktu Ibu mengandung ada titik merah/janin kita, kemudian ketika kita lahir jadi manusia didalam kita ada roh suci, disimbolkan : Merah dalamnya Putih.
Jika di Tiongkok telah dikenal symbol YIN YANG sejak ribuan tahun silam , yang artinya kurang lebih mirip dengan Merah Putih, maka bangsa kita juga mempunyai simbol Merah Putih, artinya bangsa Indonesia mempunyai pandangan holistik, tentang Makrokosmos dan Microkosmos Kehidupan yang sangat religius yang sangat nyata ditulis oleh Alam .
Maka memahami Merah putih, berarti memahami makna filosofis yang dalam mengenai Makna Kehidupan yang menjadi Simbol, Spirit, Jiwa bangsa Indonesia.

Dikutip dari beberapa sumber.
Kamis, 31 Maret 2011

0
Pemikiran Gus Dur (3)

Damai Dalam Pertentangan

Oleh KH. Abdurrahman Wahid

Memang ironis kalau simbol lebih dikenal dari kenyataan. Tapi itulah yang terjadi di Tokyo bulan lalu, April 1983. Film Gandhi, yang baru saja memenangkan delapan Oscar
di Hollywood, diputar serentak di sekian bioskop. Karcis dibeli berebutan . Masyarakat Jepang rupanya disentuh nuraninya oleh film yang menggambarkan perlawanan tanpa kekerasan.

Namun sebuah kejadian lain di Tokyo waktu itu hampir-hampir tidak memperoleh perhatian. Hanya dimuat dalam berita pendek di sudut bawah koran-koran Jepang: Uskup Agung Helder Camara menerima Hadiah Niwano untuk perdamaian. Padahal tahun inilah hadiah itu pertama kali di berikan.

Hadiah Niwano rencananya akan dikeluarkan tiap tahun oleh Yayasan Perdamaian Niwano, salah satu lembaga yang berasal dari gerakan kaum Budhis terbesar di Jepang, Rissbo-Kosei-Kai. Di samping memberikan hadiah untuk prestasi terbaik dalam menumbuhkan saling pengertian antar agama dan memajukan perdamaian, yayasan itu juga menjadi sponsor Konperensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (World Conference on Peace and Religion) yang sudah berlangsung tiga kali sampai saat ini.

Dan hadiah Niwano justru punya arti penting oleh pemilihan pemenangnya yang pertama kali ini: Uskup Agung Olinda-Recife, Brazilia, Helder Pessoa Camara, yang oleh penggemarnya disebut Dom Helder. Ialah "uskup merah". Yang berarti, hadiah perdamaian itu diberikan berdasar pertimbangan yang tidak konvensional tentang ‘perdamaian' itu sendiri. Ini menjadi jelas bila bentuk penghargaan baru itu dibandingkan dengan Hadiah Nobel untuk perdamaian.

‘Perdamaian', dalam Hadiah Nobel, mengandung arti menghindarkan , melerai, mengurangi atau menyelesaikan konflik. Konfliknyapun tidak dibatasi, baik terorisme bersenjata di Irlandia Utara maupun pertentangan politik seperti sengketa Arab-Israel. Tidak heran kalau dari pejuang palang merah sampai pejabat pemertintah dapat meraih penghargaan itu ( Sadat dan Begin, misalnya ). Juga pejuang kemanusiaan dalam arti umum seperti Albert Schweitzer yang bergulat dengan penyakit Lepra di Afrika Hitam, atau suster Marie Therese yang mengurusi kaum melarat di Calcutta, India.

Dalam wawasan serba konvensional itu yang ditinggalkan Yayasan Niwano, setidaknya tahun ini. ‘Uskup Merah' Dom Helder tidak akan memperoleh julukan julukan merah kalau ia menghindar dari konflik. Yang dilakukannya justru mendorong berlangsungnya perlawanan terhadap kekuasaan militer yang menindas rakyat dan struktur yang timpang, di negaranya sendiri maupun di seluruh Amerika Latin umumnya.

Hanya saja perlawanan yang diserukan dan ditunjangnya bukan perlawanan bersenjata, apalagi terorisme. Dan disini ia memenuhi kedua Krieria Yayasan Niwano: memajukan perdamaian dan sekaligus mengembangkan saling pengertian antar agama. Dan caranya dianggap unik.

Bermula dari keyakinan akan kebenaran moralitas yang bersandar pada rasa kasih sayang, ia menghimbau kalangan rohaniawan agamanya sendiri untuk menegakkan masyarakat baru yang tidak diwarnai penindasan. Upaya menghilangkan penindasan berarti kesediaan untuk turut menegakkan struktur ekonomi yang adil - yang bebas dari ekploitasi kalangan yang oleh Dom Helder di sebut ‘mereka yang memiliki uang', alias kaum modal. Kalau pemerintah, dan kekuasaan yang ada, mengukuhkan struktur eksploitatif, kalangan agama harus memunculkan alternatif mereka di bawah swadaya masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan, membebaskan dari kungkungan hukum yang tidak adil dan memperjuangkan hak-hak asasi.

Petani didorong berani mengambil inisiatif dan memulai perombakan struktur pemilikan dan penguasaan tanah, alias Landreform. Dilanjutkan dengan membentuk usaha prakooperatif. Kaum buruh di kota didorong berani menuntut hak mereka dari pihak majikan- kalau perlu dengan pemogokan. Generasi muda diimbau memperjuangkan hak-hak politik sepenuhnya, kalau perlu dengan demonstrasi. Dan kalangan Intelektual diminta mempelopori jaringan pendidikan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan golongan miskin ; penyadaran akan keberadaan mereka dan kemampuan yang mereka miliki untuk mengubah nasib.

Sikap seperti itu, menurut kacamata Uskup Agung Helder Camara, adalah inti perdamaian. Itulah upaya menegakkan masyarakat yang benar-benar adil. Hanya saja upaya tersebut dilakukan tidak dengan merobohkan sistem kekuasaan yang ada, melainkan mengubahnya berangsur-angsur.. Tindak kekerasan dari pemegang kekuasaan harus dihadapi dengan sikap menentang bentuk kekerasan itu sendiri. Disini bertemulah sikap menjunjung tinggi perdamaian (tanpa mengurangi sedikit pun kewajibang menentang struktur masyarakat yang timpang ) di satu pihak dan sikap mengembangkan saling pengertian antar agama di pihak lain.

Dom Helder memang secara terbuka ‘meminjam' cara-cara yang dikembangkan agama lain. Yaitu dari perjuangan Mahatma Gandhi di lingkungan agama Hindu dan Martin Luther King di kalangan agama Protestan. Gandhi memperjuangkan kemerdekaan India, sedangkan King memperjuangkan hak-hak sipil golongan kulit hitam di Amerika Serikat, namun keteguhan mereka untuk berjuang secara militan tanpa kekerasan adalah sesuatu yang secara universal dapat dilakukan kalangan mana pun termasuk kalangan Katholik Amerika Latin - mungkin demikian jalan pikiran Helder . Bukankah dengan saling pengertian mendasar antaragama seperti itu, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?

Banyak yang dapat diambil dari kiprah menegakkan perdamaian di tengah pertentangan, dan saling pengertian di tengah perbedaan ajaana dan paham. Relevankah pelajaran itu bagi kita ? Kita sendiri sudah tentu tahu jawabannya - walaupun aneh juga bahwa dari Indonesia datang pencalonan untuk hadiah tersebut, yang mengusulkan seorang jendral. Konsepnya tentang perdamaian tentu lain lagi

0
Pemikiran Gus Dur (2)

Negara Hukum Ataukah Kekuasaan

Oleh Abdurrahman Wahid

Minggu ini diramaikan dengan tindakan sepihak oleh Front Pembela Islam (FPI), atas kompleks milik sebuah organisasi Islam Ahmadiyah di Bogor. Mau tidak mau, kita lalu menjadi tercengang karena "serangan" itu akibat dari fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa gerakan Ahmadiyah dalam segala bentuknya dilarang oleh Islam. Pendapat ini jelas-jelas bertentangan dengan Undang-undang Dasar. Sedang badan yang berwenang dalam hal ini, yaitu Pakem (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) di lingkungan Kejaksaan Agung mengatakan gerakan Ahmadiyah Qadiyan saja yang dilarang oleh ajaran Islam, sedangkan aliran lainnya tidak demikian. Karena itu, patutlah kita saat ini mengajukan pertanyaan: manakah yang akan dipakai keputusan berdasarkan Undang-Undang Dasar, ataukah pendapat sebuah lembaga betapa terhormatnya sekalipun, seperti MUI.

Soal serupa pernah juga penulis alami, yaitu ketika gerakan Baha'i-isme terkena tindakan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) di Kabupaten Pati beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu penulis mengambil sikap tegas, karena pihak Kodim melarang sekolah untuk menerima anak-anak orang Baha'i untuk turut ujian SMP, karena ada larangan tertulis atas Baha'iisme berdasarkan sebuah Keputusan Presiden (Kepres) No. 264/1962. Penulis menentang keputusan itu, menurut penulis hal itu bertentangan dengan undang-undang dasar dan dengan demikian batal demi hukum. Ketika menjadi Presiden melalui Kepres No. 69/2000 (Kepres klik di sini, red) penulis mencabut Kepres No. 264 itu. Walaupun Mahkamah Agung tidak mengeluarkan keputusan dalam hal itu, tetapi aparat kekuasaan memahami kenyataan yang ada. Akhirnya keputusan sebelumnya itu tidak dilaksanakan dan menjadi "barang mati". Tapi mengapa hal ini tidak terjadi pada kasus di Bogor tersebut?

Karena Mahkamah Agung tidak mengeluarkan keputusan dalam kasus di Bogor ini, patutlah kita bertanya kepada diri sendiri: siapakah yang berkuasa di negeri kita saat ini? Hukum kah atau kekuasaan? Dalam beberapa hal kekuasaan memang memerintah secara luas, seperti dalam kasus Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dikhawatirkan apabila pemeriksaan atas lembaga itu oleh alat penegak hukum, maka akan membuka kesalahan demi kesalahan yang dilakukan KPU selama ini dari sudut Undang-Undang. Dan seluruh proses Pemilihan Umum dari pemilu badan-badan legislatif hingga Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang dalam pandangan penulis tidak memiliki keabsahan hukum dan kejujuran, membuat hasilnya tidak memiliki legitimasi. Persoalannya adalah perlukah proses itu diulang kembali, padahal kita tidak mampu untuk itu?

Sebagai bangsa, kita patut mempertanyakan kedua hal itu: siapakah yang berkuasa? Dan perlukah pemilu diulang kembali? Pertanyaan ini penting untuk masa depan kita karena terkait dengan pertanyaan akankah kita memiliki negara demokratis ataukah tidak? Sudah tentu, ada "tuduhan" ke arah penulis, bahwa ia membuat kekacau-balauan hidup kita sebagai bangsa. Namun penulis beranggapan harus ada yang memimpin ‘kemampuan' bangsa kita di saat ini dan masa depan. Kalau bertanya saja kita sudah tidak mampu, bukankah ini berarti sudah terjadi ketakutan antara fakta dengan lemahnya kontrol atas perbuatan kita sendiri? Bukankah pemerintah sendiri wajib menengakkan demokrasi?

Karenanya, kedua pertanyaan diatas dikemukakan dalam tulisan ini, guna memulai sebuah proses yang memiliki legitimasinya sendiri. Bukankah kita tidak akan membiarkan bangsa ini kembali ke masa lampau yang otoriter, dengan kekuasaan mengendalikan seluruh aspek kehidupan bangsa seperti pada pemerintahan Orde Baru sebelum 1999? Kalau memang benar demikian, lalu apa perlunya dilakukan reformasi politik yang dimulai tahun 1998, jika sikap serba tanggung seperti yang diperlihatkan sekarang oleh pihak memerintah, hanya akan berakibat lebih hancurnya pemerintahan kita. Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) adalah hasil dari "perkawinan" sikap takut dan serba tanggung tadi. Jadi kita harus menentukan, model lama atau baru yang dipakai?

Karenanya, menjelang ulang tahun ke-lima Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), saatnya sangat tepat untuk mempertanyakan kepada diri sendiri, benarkah kita negara hukum ataukah negara kekuasaan? Memang, peradilan kita masih dikuasai oleh sebuah mafia, tapi dapat kita lihat bahwa ada perkembangan menuju ke arah perubahan fundamental pada kekuasaan hukum. Pihak yang menginginkan kekuasaan hukum menjadi hilang, lamban laun akan didesak oleh kenyataan oleh sistem peradilan kita yang ternyata masih menggunakan patokan hukum. Kalau ini didorong terus, maka kita akan percaya bahwa demokrasi akan tumbuh dengan baik di negeri kita. Karenanya, dua persoalan di atas memerlukan jawaban tuntas dari kita semua: benarkah hukum berkuasa dinegeri ini ataukah pemegang kekuasaan?

Jika Amerika Serikat dalam ujung abad ke 18 masehi dipenuhi oleh perdebatan antara hak-hak individu yang diwakili Thomas Jefferson, melawan hak-hak kolektif masyarakat yang diwakili oleh negara-negara bagian dengan pendekar Alexander Hamilton, maka negeri kita baru diabad ke-21 ini mengalami perdebatan antara hak-hak masyarakat berhadapan dengan hak-hak individu, yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Dalam tatanan ini, gerakan apapun di masyarakat, seperti gerakan semacam Front Pembela Islam (FPI), betapa benarnya sekalipun ia dari sudut ajaran agama, tidak berhak melakukan tindakan melawan hukum seperti yang dilakukannya di Bogor terhadap para pengikut Gerakan Ahmadiyah. Tindakan yang mereka lakukan bertentangan dengan hukum dan UUD, karena apa yang dilakukan orang-orang Ahmadiyah itu tidak bertentangan dengan peraturan dan Undang-Undang.

Ini perlu dikemukakan disini, karena ada anggapan bahwa langkah-langkah FPI itu didasarkan kepada keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sebenarnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan UUD dari sudut teoritik. Ketundukan kepada UUD itu mencerminkan kenyataan kita adalah sebuah negara hukum, sedang perbuatan FPI itu mencerminkan sikap dan anggapan bahwa negara kita adalah negara kekuasaan (mach state) dan bertentangan dengan bunyi UUD kita sendiri. Ini tidak berarti negara harus melakukan tindakan kekerasan kepada FPI, melainkan melakukan pendidikan kembali untuk menanamkan prinsip kedaulatan hukum (law sovereignty) itu. Kekerasan hanya digunakan jika benar-benar diperlukan oleh negara untuk menengakkan kedaulatannya.

Karenanya, perkembangan keadaan harus diikuti dengan penuh kecermatan. Hal-hal yang benar-benar perlu diubah harus mengalami perubahan, kalau perlu diganti. Orang-orang Kristen Mormon di AS abad lampau harus menerima bahwa Undang-Undang di negeri itu yang melarang orang kawin lebih dari seorang istri, walaupun ajaran semula dari kaum itu memperkenankan empat orang istri. Perubahan seperti itu, menunjukkan dengan nyata bahwa hal tersebut merupakan bagian dari upaya melestarikan dan membuang yang terjadi dalam sejarah manusia, bukan?

RSCM, 20 Juli 2005

0
Pemikiran Gus Dur (1)


Lain Jaman, Lain Pendekatan

Oleh: Abdurrahman Wahid
Persoalan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih terus dibicarakan orang. Walaupun KH. M. Sahal Mahfudz telah berusaha sekuat-kuatnya menjelaskan, namun tidak berhasil menenangkan masyarakat, bahkan MUI-pun menjadi sasaran guyonan masyarakat banyak. Bahkan ada yang menyatakan, MUI adalah singkatan Majelis Uang Indonesia. Contoh plesetan yang tidak menggelikan ini, sebenarnya menggambarkan perasaan masyarakat yang berang terhadap ‘kesalahan' MUI. Bahkan sikap salah seorang ketuanya yaitu KH. Ma'ruf Amin yang menyatakan ia optimis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mendukung MUI dalam hubungan dengan melarang gerakan Ahmadiyah Indonesia, dirasakan sebagai sikap arogan dan tidak bertanggung jawab.

Bukan hanya penulis, yang melihat masalahnya dari sudut konstitusi, tapi orang-orang seperti Dr. Azyumardi Azra, Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif (yang disegani orang karena sikapnya yang hati-hati), dan Dr. M. Syafi'i Anwar, semuanya menolak fatwa MUI itu. Bahkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang ada di lingkungan MUI dihadapkan kepada reaksi marah dari para anggota Muhammadiyah sendiri, termasuk ketuanya Din Syamsuddin. Bahkan seorang tokoh Muhammadiyah yang berpengaruh besar seperti Prof. M Dawam Rahardjo berpendapat, menuntut supaya MUI dibubarkan saja. Kira-kira menurut pendapat penulis, karena sikap MUI terhadap minoritas seperti GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia). Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, memahami benar bahwa GAI dilindungi oleh konstitusi kita, betapapun kita berbeda pendirian dengan mereka.

Sedangkan argumentasi orang-orang yang tergabung dalam usaha pelarangan atau yang mendukung argumentasi untuk melarang GAI itu, adalah bahwa Saudi Arabia melarangnya. Namun dilupakan Saudi Arabia adalah sebuah negara Islam, sedangkan Republik Indonesia bukan. Kita adalah sebuah negara nasional yang berlandaskan Pancasila, karena itu dapat menerima perbedaan apapun dalam faham kenegaraan (kecuali komunisme dalam pandangan sejumlah orang). Jika kita larang GAI, karena berbeda dari pendapat doktriner sebagian besar kaum muslimin di negeri ini, konsekuensinya kita juga harus melarang pandangan-pandangan kaum Kristen dan Katholik, Buddha, Hindu dan lain-lain. Bukankah keyakinan mereka juga tidak sama dengan keyakinan keimanan mayoritas kaum muslimin?

Maka dapat dipahami ‘kemarahan' orang terhadap fatwa MUI itu. Karena bukannya menolong pemerintah untuk mencarikan jawaban terhadap keadaan yang ‘mengharuskan' pencarian solusi bagi krisis multidimensi yang sedang kita hadapi, atau setidak-tidaknya menahan diri dari setiap tindakan yang memperburuk hubungan antara kita, fatwa MUI itu justru membawa masalah baru dalam hubungan antara berbagai agama di negeri kita. Pandangan serba sempit yang dimiliki MUI itu akan merugikan seluruh komponen bangsa.

Kita harus saling mengingatkan, bahwa kita memiliki kewajiban agar apapun perbedaan pendirian kita, kita harus hidup bersama dalam satu ikatan. Bahwa perbedaan demi perbedaan yang ada, seharusnya mendorong munculnya sikap yang arif bijaksana, bukannya sikap yang membuat hubungan yang ada menjadi semakin buruk, seperti pendapat MUI yang menimbulkan reaksi yang begitu keras.

Memang pada akhir-akhir ini kita melihat bahwa di lingkungan gerakan-gerakan Islam mulai muncul ‘hal-hal tidak sedap', seperti munculnya sikap lebih keras di kalangan kaum muslimin, untuk memunculkan ‘kelebihan' ajaran-ajaran agama Islam di atas berbagai ajaran agama-agama lain. Sebenarnya unutk memenuhi ‘kebutuhan' akan hal itu, justru diperlukan kearifan untuk menahan diri di kalangan para pemimpin Islam sendiri.

‘Salah baca' para pimpinan MUI justru berakibat pada reaksi berlebihan dari kaum muslimin sendiri. Kalau saja hal ini disadari oleh para pemimpin MUI, tidak akan terjadi apa yang kita saksikan minggu lalu itu, yaitu penyerangan sejumlah Masjid Ahmadiyah. Para pemimpin MUI justru melupakan sebuah kenyataan penting berupa rumusan ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu "Telah Ku-ciptakan kalian sebagai lelaki dan perempuan, dan Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, untuk saling mengenal" (I nna khalaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja'alnakum syu'uban wa qabaila li ta'arafu). Dan sikap dasar dari ketentuan Tuhan itu adalah "Dan berpeganglah kepada tali Allah secara keseluruhan, dan jangan terpecah-belah" (wa'tashimu bi habli Allah jami'an wa la tafarraqu).

Sikap dasar ini juga merupakan antisipasi terhadap kenyataan akan masa depan agama Islam dan kaum muslimin, seperti telah terbukti dewasa ini yaitu Islam merupakan agama besar, tanpa mengecilkan agama-agama lain. Inilah yang belum disadari oleh para pemimpin MUI maupun para pemimpin berhaluan keras yang ada di kalangan kaum muslimin sendiri pada saat ini. Sikap-sikap keras yang kita lihat masih ada di kalangan kaum muslimin mudah-mudahan akan hilang melalui pendidikan yang lebih baik dan komunikasi yang lebih intens.

Bisa kita gambarkan upaya para pemimpin muslim di masa lampau, seperti Sir Sayyed Ahmad Khan di India dan Mohammad Abduh di Mesir. Di masa lampau, mayoritas kaum muslimin pada waktu itu bersikap keras pada orang lain, karena memang kolonialisme masih merajalela. Karena itu sikap toleransi yang mereka perlihatkan dianggap sebagai tindakan ‘menyerahkan diri' kepada agama lain. Tetapi pendidikan dan komunikasi yang berkembang antara kaum muslimin dan pihak-pihak lain, membuat kita menyadari bahwa memang diperlukan kearifan dan kebijaksanaan dalam hal ini.

Hanya saja di kalangan orang-orang yang berpengetahuan agama Islam tidak cukup mendalam, justru terjadi kecurigaan yang berlebih-lebihan terhadap orang lain, yang menonjolkan perbedaan-perbedaan yang ada, bukannya mencari titik temu antara Islam dengan agama-agama lain itu. Karena itulah, timbullah reaksi yang mengacu kepada penggunaan "bahasa kekerasan" dari Islam terhadap agama-agama lain. Inilah sisa-sisa warisan lama yang harus kita rubah melalui pendidikan dan komunikasi antar golongan. Ini berarti terhadap keadaan yang berubah, respon kita juga harus mengalami perubahan pula. Perubahan respon ini adalah kewajaran dalam perkembangan manusia, bukannya keadaan yang harus diteruskan dari generasi ke generasi. Tanpa memahami "keharusan sejarah" ini maka dapat berakibat fatal bagi diri kita sendiri, minimal bagi peranan kita dalam kehidupan bersama. Jawaban yang tepat hanya diperoleh mereka yang memahami keadaan secara tepat pula.

Apa yang dikemukakan di atas hanyalah sebagian saja dari begitu banyak hal-hal rumit yang dihadapi oleh kaum muslimin. Tetapi merespon dengan sikap keras merupakan sesuatu yang tampak dengan segera dalam pandangan bangsa ini. Mengapa? Karena kaum muslimin tidak hidup sendirian di sini, melainkan ditakdirkan oleh Allah untuk hidup bersama-sama dengan orang-orang beragama lain. Bahkan kaum muslimin sekarang ini harus hidup dengan mereka yang tidak ber-Tuhan, atau mereka yang memiliki kerangka etis yang lain, seperti kerangka dari ‘masa lampau'. Ini adalah bagian dari upaya melestarikan dan membuang yang senantiasa terdapat dalam proses sejarah umat manusia, bukan?

Jakarta, 2 Agustus 2005

1
Kumpulan Anekdote, Joke dan Humor Gus Dur (3)


Alkisah di satu waktu pertengahan tahun 2008,Sang Malaikat Pencabut Nyawa (lazimnya disebut malaikat Izrail), yang sedang duduk duduk diberanda Pintu Neraka, mendapat pesan langsung dsari bumi, yang berupa doa dari para manusia di negeri bernama Indonesia. Doa yang pertama datang dari sekelompok orang yang mengaku dari Golongan Islamis.
Doa mereka begini ” Wahai Izrail, kami mohon padamu untuk sesegera mungkin mencabut nyawa saudara kami yang bernama Gus Dur…soalnya asem banget dia, masak dia bilang kami ini sesat karena kami mencoba membawa kembali ke jalan yang benar para saudara saudara kami yang salah jalan… belum lagi dia juga hoby banget ngejailin pemimpin kami, yang bernama Habib Rizieq… kok bisa tega nian dia berpolitik sampai menjebloskan Habib ke penjara Mabes Polri itu,ya Izrail… makanya Iz…, tolonglah cabutlah segera nyawa manusia bernama Gus Dur ini…”
hmmmm….Izrail menerima pesan dan berkata ” message noted”. Kemudian tak lama kemudian datang lagi doa dari kelompok kedua, yang mengaku ngaku sebagai Kelompok Nasionalis… Doa mereka begini ” Wahai Izrail, manusia presiden manakah yang tega nian melambaikan tangan pada rakyatnya diluar istana sementara ia hanya dengan menggunakan celana kolor dan sendal jepit dari dalam Istana Negara?…padahal dia itu Presiden kami…kan jadi malu kami sama warga dunia…mereka bilang, tuh liat Indonesia, presidennya aja pake kolor…makanya Iz, tolong segera diselesaikan saja manusia bernama Gus Dur ini… jadi rusak kami punya kenecisan yang dulu sudah susah payah kami bangun sejak presiden pertama kami yang guanteng dan necis itu..”
hmmmm Izrail menerima pesan doa dan berkata ” ah…memang kurang ajar si Gus Dur ini”. Kemudian disaat Izrail sedang sibuk menimbang2 dan berpikir keras, datanglah doa dari sekelompok orang Yahudi DARI DALAM NERAKA, sebagian diantara mereka adalah mereka yang dulu dibantai oleh Hitler,dkk. Diantara mereka juga tampak DN Aidit.
Mereka mengirimkan doa pada Izrail, bunyinya begini… “wahai Izrail, segeralah kirim saudara kami dan pembela kami yang bernama Gus Dur yang yang saat ini masih berada di dunia, di negara bernama Indonesia itu kedalam neraka sini…Kami di neraka sini sangat merindukan kedatangannya… Kami di Neraka membutuhkan pemimpin yang berani membela kebebasan dan Hak Asasi Manusia sak-bablas bablasnya… soalnya, semenjak Kawan Mao dan Hitler hijrah kesini, kami para Yahudi dan antek komunis, merasa diintimidasi di dalam neraka sini…paling cuma Aidit yang bisa speak speak sedikit… cari aman dia disini…makanya itu ya Iz, kirimlah segera Gus Dur kesini menemani kami, kirimlah dia ke neraka untuk hidup bersama kami disini…”
AKHIRNYA, Izrail yang dari tadi sibuk menimbang2, tadinya kalem2 aja, akhirnya pun bergetar badannya, marah sekali ia mendengar ulah manusia bernama Gus Dur ini.ini Gus Dur di dunia banyak musuhnya, di Neraka banyak pula kawannya… manusia macam apa ini??? kata Izrail. Baiklah , kalau gitu akan kucabut nyawanya sekarang…detik ini juga…
Langsung Izrail turun ke Indonesia, saat itu Gus Dur sedang santai mimpin rapat. Izrail pun bersiap mencabut nyawanya, tapi seharusnya ia menggunakan tangan untuk mencabut nyawa, kali ini, saking keselnya Izrail sama Gus Dur, maka ia memutuskan untuk tidak mengotori tangannya, melainkan ia akan menendang saja pantatnya Gus Dur itu, langsung dari dunia hingga terpelanting tepat masuk ke dalam pintu neraka. Itu rencana awalnya.
Lalu, Izrail bersiap2, mengambil langkah mundur…12 pas…ibarat seorang Michael Ballack…., Izrail pun berlari kencang kearah pantat Gus Dur, dan tanpa ragu2, Izrail menendang pantat Gus Dur keraaass… sekali, dengan target pintu neraka. Tetapi sekejap kemudian, Izrail melongo dan kaget bukan kepalang… apa pasal…??
Oalah…, teryata tendangan Izrail jauh melambung melampaui mistar gawang… Ternyata, Gus Dur yang seharusnya mendarat di pintu neraka, malah melambung jauh…, tubuhnya melambung tinggi melampaui pintu neraka, dan akhirnya gagal masuk tepat bersarang dalam neraka…
Akhirnya Izrail pun sadar, bahwa ia nendang terlalu emosi, saking marah emosiannya sama Gus Dur, tendangannya terlalu kencang, dan hasilnya malah Gus Dur tidak jadi masuk neraka, malah Gus Dur kembali ke dunia, ke bumi Indonesia.
Izrail pun akhirnya pulang ke langit dengan perasaan hampa…dalam hatinya berkata…”gilee ini manusia bernama Gus Dur, kalau malaikat macam gue aja bisa dia bikin emosian, gimana dengan sesama manusia ya…?”
Catatan Penulis:
Pada saat Izrail hendak menendang Gus Dur, saat yang bersamaan Gus Dur sedang memimpin satu rapat malam hari di Kantor DPP PKB. Awalnya tuh rapat berjalan aman aman aje, lantas datanglah Izrail menendang Gus Dur, walhasil meleset,dan sekejab setelah tendangan meleset itu, Gus Dur pun kembali lagi kedlam ruang rapat PKB.
Cuma yang takjubnya, setelah Gus Dur terbang jauh melewati mistar gawang…,eh, mistar neraka, rapat PKB yang tadinya adem ayem, malah jadi runyam kacau balau berujung dengan pemecatan Cak Imin…duh biyuuung…
Mungkin pikiran Gus Dur saat itu begini “weleh..weleh. ..,kalo sempeeeet..aja gue berbuat baik dikit, mungkin tuh Izrail nendangnya jadi gak emosian, dus tendangan penaltinya jadi tepat, dus jadilah gue masuk neraka…Makanya gue harus selalu bikin Izrail emosian..biar gagal terus tendangan penalti dia…”
Makanya…gue pecat ada tuh si Imin…

Bersambung----
Kamis, 17 Maret 2011

0
Gaja Dompak symbol kekuasaan Raja Sisingamangaraja.!



MANGHUNTAL SINAMBELA.

Munculnya cerita-cerita tentang raja ini bukan tanpa sebab. Bila merunut pada silsilahnya dari marga Sinambela, adalah tidak mungkin dia diakui sebagai raja. Hal ini terutama karena hingga kini, sahala sihahaan (hak anak sulung) masih kental dalam masyarakat Batak. Sementara clan Sinambela adalah turunan bungsu, (anak ke 4) dari turunan Tuan Sorba Dibanua. Bila mengacu pada silsilah tersebut, munculnya Manghuntal sebagai raja, memang satu hal yang mencengangkan. Pasti ada sesuatu yang istimewa atas pemuda yang satu ini, sehingga dia diakui sebagai raja. Dari sinilah cerita tentang Manghuntal Sinambela dimulai Adniel Lumbantobing Adniel Lumbantobing sendiri, penulis pertama yang menulis riwayat raja ini, dalam awal tulisannya, merasa perlu memohon maaf dan mengucapkan sejumlah mantra yang bertujuan agar dia tidak dapat kutukan dari sahala raja tersebut. Dan bila memperhatikan pengucapan tonggo-tonggo (mantra) pada awal tulisannya, seolah ada rasa takut dalam dirinya, bila menuliskan sesuatu yang tidak benar mengenai raja tersebut.
Setelah kata-kata mantra, cerita dilanjutkan sekitar kelahiran sang raja. Dimulai dengan kehamilan ibundanya yang sudah lama ditinggal pergi oleh suaminya Raja Bona ni Onan, tanpa diberi nafkah lahir maupun bathin. “Suatu ketika, setelah lelah bekerja di sawah”, demikian menurut Adniel Tobing, “ibu yang malang ini pergi mandi ke sebuah sungai di tengah hutan (harangan sulu-sulu). Dari tempat inilah kehamilannya berawal, konon, tanpa melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki”.
Cerita berlanjut dengan masa kehamilan yang sampai mencapai 17 bulan, menyebabkan banyak orang terheran-heran. Begitu pula ketika si anak lahir, telah mempunyai gigi yang lengkap dan, konon, lidahnya berbulu. Selain itu, pada masa kanak-kanaknya, beliau telah banyak melakukan hal-hal yang menakjubkan, termasuk berbagai mukjizat. Hal-hal seperti itu banyak diceriterakan dalam buku tersebut. Dan aneh memang, diantara sejumlah buku karya penulis orang Batak, buku ini mempunyai rekord tersendiri sebagai buku yang paling banyak di cetak ulang. Banyak buku yang diterbitkan tentang raja ini, mulai dari yang ditulis oleh A. Sibarani, atau H. Moh. Said atau O. L. Napitupulu dan bahkan oleh Prof. DR. W.B Sijabat, diterbitkan hanya sekali dan sesudah itu dilupakan orang.
Akan tetapi diantara seluruh tulisan yang saya baca, tidak satupun yang menulis, tentang siapa sebenarnya Manghuntal dan bagaimana sepak terjangnya hingga diakui sebagai raja. Tulisan singkat ini memuat hal itu, karena kemunculannya sebagai raja membawa akibat yang sangat parah bagi penduduk di Tanah Batak Utara, yaitu perang dengan pasukan Paderi yang dipimpin seorang kerabatnya bernama Pongki Nangolngolan.
Sebelum menjadi raja Batak, dia bernama kecil Manghuntal bermarga Sinambela. Pada masa remajanya, dia telah menunjukkan bakat-bakat kepemimpinan yang luar biasa. Di samping pintar berbicara, dia juga adalah seorang pemberani. Pada masa remajanya, Balige adalah pusat negeri Toba. Pada waktu-waktu yang sebelumnya disepakati, di tempat ini berkumpul para “raja” dari seluruh wilayah tetangga dimana mereka membicarakan banyak hal. Pada waktu mereka berkumpul, banyak pedagang yang datang kesana, menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Balige yang juga berfungsi sebagai kota pelabuhan menjadi sangat ramai.
Akan tetapi, sering terjadi, ketika para pedagang melakukan perjalanan ke Balige, banyak di antara pedagang ini tidak sampai di tempat. Kalaupun mereka sampai, perahu yang mereka tumpangi sudah kosong karena dibajak di tengah danau oleh sekelompok orang dibawah pimpinan Togar Natigor gelar Porhas, yang menjadi pemimpin “bajak danau” di perairan Balige. Dia adalah manusia yang paling ditakuti karena kemampuannya menyerang lawan dengan tiba-tiba. Si korban dapat kehilangan nyawa tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Hal inilah penyebab mengapa orang yang mati tiba-tiba, dikatakan di soro porhas (direnggut porhas) suatu perumpamaan yang mengisi perbendaharan bahasa Batak.
Ulah Porhas ini sangat mengganggu wibawa keturunan Sibagot Nipohan, yang pada masa itu telah diakui sebagai penguasa di Onan Raja Balige. Berkali-kali mereka mendatangi Porhas di Muara dan meminta agar dia tidak mengulangi perbuatannya, akan tetapi dia tidak pernah ambil pusing. Celakanya lagi, mereka balik di ancam untuk tidak campur tangan. Karena ulah Porhas tersebut, keturunan Sibagot Nipohan berupaya untuk menghimpun saudara-saudara mereka dari keturunan Sorba Dibanua. Mereka yakin bahwa, kalau mereka bersatu, Porhas akan dapat ditaklukkan.
Untuk maksud tersebut, pertama-tama mereka mendatangi keturunan Paittua di Laguboti. Walaupun merasa prihatin dengan apa yang terjadi, keturunan Paittua menjawab, “Semuanya bergantung pada saudara yang lain. Kalau mereka sepakat, kami juga akan sepakat.” Demikian kata turunan Paittua. Akan tetapi, sebagaimana ternyata kemudian, keturunan Paittua tidak pernah muncul di Balige sehingga mereka dikatakan sebagai orang na paet lagu. Inilah awal dari nama Paittua berubah menjadi Paettua atau Sipaettua dan nama kampungnya diberi nama lagu-lagu boti (Laguboti).
Jawaban yang sama diterima pada waktu keturunan Sibagot Nipohan mengunjungi turunan Sabungan di Silalahi Nabolak. Karena tidak menerima jawaban yang memuaskan, seorang keturunan Sabungan yang ditemukan sedang menggembala dibujuk dan dinaikkan ke perahu. Anak ini kemudian dibawa ke tempat turunan Oloan di Siogung-ogung .
Melihat anak remaja tersebut yang dikenal sebagai keturunan Sabungan, keturunan Oloan menyambut mereka dengan hangat dan yakin bahwa saudaranya dari turunan Sabungan akan hadir. Rasa rindu karena sudah lama berpisah menyebabkan mereka menyambut tamunya dengan rasa gembira.
Tiba hari yang telah ditentukan, keturunan Oloan hadir di Onan Raja Balige. Mereka disambut lebih hangat lagi. Walau mereka merasa tidak enak karena ketidakhadiran saudara-saudara mereka yang lainketurunan Paittua dan keturunan Sabunganpenyambutan yang begitu luar biasa menyebabkan mereka sungkan untuk mundur. Pada acara marsisungkunan (mempertanyakan maksud pertemuan), keturunan Sibagot Nipohan mengutarakan ancaman yang dilakukan Porhas Siregar. Keturunan Sibagot Nipohan mengusulkan agar mereka secara bersama-sama menghadapi ancaman ini.
Turunan Oloan merasa serba salah. Memberikan jawaban “ya” tidak mungkin, karena mereka telah terikat sumpah untuk tidak mencampuri urusan Sibagot Nipohan. (baca: hal 87 pen.) Memberikan jawaban “tidak” juga tidak mungkin karena sambutan yang begitu bersahabat. Karena itu, untuk menolak, secara halus mereka mengajukan syarat yang, menurut mereka, tidak mungkin akan dipenuhi. Syarat tersebut ialah bahwa, kalau Porhas takluk mereka diakui sebagai raja.
Mengherankan, walaupun syarat itu bertentangan dengan adat kekeluargaan orang Batak ( dan hal itu sengaja dikemukakan dengan maksud agar ditolak) semua turunan Sibagot Nipohan menyatakan persetujuannya. Turunan Oloan menjadi serba salah. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa, apabila Porhas dapat ditaklukkan, walaupun keturunan Oloan adalah anggi di partubu, hak sebagai raja (haha di harajaon) akan diberikan kepada mereka, yang menurut adat Batak sangat tidak lazim.
Jalan untuk mundur bagi keturunan Siraja Oloan pun sudah tidak ada lagi. Waktu mereka pulang, hal itu menjadi bahan pembicaraan. Baho, keturunan sulung dari Oloan, berbicara kepada adik-adiknya dengan berandai-andai: Sekiranya Porhas dapat ditaklukkan, siapakah yang menjadi Raja? Mereka serempak menjawab, “Ba ho Raja” (“Silakan, engkau menjadi raja”). Inilah awal dari nenek moyang marga Naibaho, sebagai keturunan sulung, diberi gelar Baho Raja.
Tiba waktu yang sudah disepakati, keturunan Oloan, dengan sejumlah perahu dan sampan, melancarkan penyerangan ke Muara. Penyerangan tersebut dilakukan keturunan Oloan dari arah Nainggolan, sedangkan keturunan Sibagot Nipohan melakukan penyerangan dari arah Balige. Menghadapi serangan dari dua arah, pasukan Porhas akhirnya kewalahan. Mereka mundur ke Muara dengan maksud melakukan perlawanan di darat. Sesampai di darat, Manghuntal bersama beberapa pengawalnya telah menunggu sambil bersila di tengah halaman. Porhas sangat terkejut karena tidak menduga Manghuntal sudah ada di sana.
Manghuntal mempersilakan Porhas duduk di atas tikar yang sudah digelar. Pasukan Oloan dan Sibagot Nipohan yang mengejar dari danau juga tidak percaya. Mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Ternyata Manghuntal dan Porhas melakukan perundingan. Lewat perundingan, akhirnya dicapai kesepakatan: Mereka berdua, Porhas dan Manghuntal, akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Apabila salah satu kalah, pasukannya dipersilakan untuk meninggalkan tempat dan tidak seorang pun boleh dilukai. Porhas menerima tantangan ini dan yakin akan memenangkan pertarungan dengan mudah, apalagi, orang yang dihadapi adalah pemuda yang masih bau kencur.
Pertarungan pun dimulai dengan disaksikan pasukan kedua belah pihak. Kedua petarung itu dengan kepintarannya masing-masing beradu kuat. Pertarungan kedua jagoan berlangsung lama, akan tetapi karena masih muda Manghuntal menang tenaga. Walaupun Porhas menang pengalaman, sepertinya tidak ada artinya berhadapan dengan Manghuntal yang masih muda. Porhas akhirnya tewas lebih banyak karena kehabisan tenaga.
Melihat kenyataan ini, nyali pasukan Porhas pun ciut. Mereka menyerah, lalu seluruhnya digiring ke sebuah tempat, yang sekarang dikenal dengan nama Lobu Siregar. Dari tempat ini kemudian mereka diusir, tanpa bekal.
Mereka hidup menggelandang. Semula mereka menuju Humbang akan tetapi disana mereka dihadang oleh marga Sihombing. Begitu pula waktu mereka menuju Pahae dihadang oleh marga Sitompul. Dalam perjalanan yang memakan waktu yang lama sebelum tiba di Sipirok yang waktu itu merupakan tanah kosong tidak berpenghuni, kadang kala mereka hanya memakan umbi alang-alang (ri) atau daun pakis (pahu). Sebagai peringatan akan penderitaan yang mereka alami, anak-anak yang lahir dalam perjalanan dinamakan Siregar Ri dan Siregar Pahu.
Penderitaan inilah yang mengakibatkan mereka menaruh dendam terhadap keturunan Sorba Dibanua. Kemudian hari, kesempatan untuk membalaskan dendam muncul, pada waktu pasukan Tuanku Rao datang ke Mandailing. Pasukan dipimpin seorang kerabat dekat R. Si Singamangaraja bernama Pokki Nangolngolan yang juga mempunyai dendam dengan penduduk di Tanah Batak Utara.
Sementara itu, Baho, si anak sulung, menuntut turunan Sibagot Nipohan untuk memenuhi kesepakatan. Turunan Sibagot Nipohan tahu persis bahwa orang yang mempunyai banyak andil dalam perang tersebut adalah Manghuntal. Sibagot Nipohan sepertinya tidak rela apabila hak raja yang mereka sandang berpindah tangan kepada Baho. Karena itu, keturunan Sibagot Nipohan berkelit dengan alasan bahwa, sesuai dengan pesan leluhur mereka yang juga merupakan leluhur OloanTuan Sori Mangarajahak sebagai raja hanya dapat diberikan kepada siapa pun yang dapat mengembalikan barang pusaka leluhur mereka yang sudah lama hilang.(baca: hal 68 pen). Diingatkan dengan pesan leluhur ini, Baho pun terdiam dan sebaliknya pula turunan Sibagot Nipohan merasa nyaman karena hak sebagai raja ijolo tidak berpindah tangan.
Akan tetapi tidak demikian bagi Manghuntal. Alasan tersebut baginya seperti alasan yang dicari-cari. Benar fatwa itu ada, akan tetapi mengapa hal itu tidak dikemukakan waktu mereka bersepakat ? Karena itu dia bertekad untuk mencari barang pusaka tersebut dan akan mengembalikannya kepada yang berhak. Dalam pencarian barang pusaka inilah kembali Manghuntal memegang peranan, yang menyebabkan dirinya mau tidak mau harus diakui sebagai raja. Dia melakukan petualangan ke Barus dimana dia bertemu dengan keturunan Raja Uti. Dalam menghadapi pemuda pintar dan digdaya ini, tidak ada jalan bagi keturunan Raja Uti selain mengembalikan barang pusaka tersebut. Apalagi, sebelum meninggal, leluhur mereka telah berpesan untuk mengembalikan barang pusaka tersebut kepada orang yang berhak. Tentang pengembalian barang pusaka itu sendiri, dmuka telah kita kemukakan ada 2 versi, versi van Dijk dan versi M. Salomo Pasaribu.
Penemuan kembali barang pusaka tersebut, menyebabkan seluruh turunan Tuan Sori Mangaraja sepakat untuk menjadikan Manghuntal Sinambela menjadi raja. Penabalan ini diakui juga oleh kelompok marga lain, yang turut hadir, sehingga tersirat pengakuan Manghuntal sebagai Raja Batak. Penobatan Manghuntal sebagai raja dilakukan di Onan Raja Balige dengan dihadiri hampir seluruh kelompok marga Batak. Kepadanya diberikan gelar Raja Si Singamangaraja. Sumpah anggi di partubu, haha di harajaon menyebabkan keturunan Manghuntal secara turun-temurun diakui sebagai penerus Raja Si Singamangaraja. Raja Si Singamangaraja yang terakhir bernama Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu, yang tewas dalam perang melawan penjajah Belanda.
Bahwa Raja Si Singamangaraja mempunyai banyak keistimewaan, diakui banyak orang. Alis matanya yang lebat menyebabkan sorot matanya seolah-olah dapat menembus uluhati orang yang menatapnya. Sorot mata ini menyebabkan siapa pun tidak berani beradu pandang dengannya. Apabila ada orang yang mencoba berkata bohong, mulutnya akan terkatup rapat dan kakinya akan gemetaran.
Satu hal yang tidak disukainya ialah melihat orang yang diperbudak. Banyak orang yang dipasung terpaksa dia tebus dengan uangnya sendiri. Karena begitu banyak orang yang harus ditebus, dia pernah jatuh miskin dan meminta pinjaman uang dari bibinya yang kawin dengan Ompu Palti Raja. Bosan karena sering dipinjami uang, bibinya marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Karena amarah yang berlebihan, tekanan darahnya pun naik sampai ke ubun-ubun dan akibatnya bibinya tiba-tiba lumpuh dan tidak dapat berbicara. Kejadian inilah yang sering dihubungkan dengan kesaktian Raja Sisingamangaraja. Takut kejadian seperti itu akan terulang, dia memerintahkan agar segala utang judi diselesaikan di tempat. Artinya, tidak seorang pun boleh dipasung hanya karena utang judi. Sejak itu, apabila Raja Sisingamangaraja lewat di suatu tempat, mereka akan buru-buru melepaskan orang yang terpasung.
Zeentgraaf, seorang jurnalis Belanda, memberikan kesaksian tentang peran Si Singamangaraja bagi rakyat pada masa kesulitan. Dalam Java Bode, Zeentgraaf pernah menulis, “Si Singamangaraja was voor de Bataks de grote weldooner, omdat hij veelerlei zegeningen kon brengen aan zijn volk, dat omhem riep in tijden van nood.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah seorang yang besar jasanya bagi rakyatnya karena dia dapat memberikan kebahagiaan pada masa kesukaran.” Masa kesukaran adalah suatu masa ketika terjadi musim kemarau panjang. Pada saat seperti ini, rakyat meminta pertolongan kepada beliau. Beliau kemudian berdoa (martonggo) kepada Mulajadi Nabolon dan meminta agar hujan diturunkan. Beliau dipercayai sebagai orang na siat marpangidoan tu Mulajadi Nabolon. Artinya, doa beliau kepada Tuhannya selalu dikabulkan. Upacara meminta hujan iturun adalah salah satu ujian bagi pengganti pendahulunya, selain menarik piso gaja dompak dari sarungnya. Ini adalah salah satu kelebihan raja-raja penerus, dibandingkan dengan manusia biasa.
Si Singamangaraja adalah priester koning atau raja imam, yang dihormati karena kelebihannya. Seorang intelektual Batak, Dr. F.J. Nainggolan, memberikan analogi yang tepat dalam hal ini. Dalam majalah Parsaoran, beliau menulis, “Allen een figuur, de ene slechts, werd het wel algameen vereerd, en afgodisch vereerd, de figuur van Si Singamangaraja. Geen Batak van ouden stempel, die niet met heilig onzagt de naam Si Singamangaraja, die voor de Batak was gelijk de Pausen in de middle eewen voor de volkeren in Europa.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah satu-satunya tokoh yang umumnya diabdi dan dipuja dengan segala kemuliaan. Tidak ada seorang pun suku Batak pada zaman itu yang tidak dengan khidmat menyebut namanya. Bagi orang Batak, kedudukannya adalah sama dengan paus pada abad pertengahan bagi penduduk Eropa.”
Mengumpamakan Raja Si Singamangaraja layaknya seorang paus adalah analogi yang tepat. Itu terjadi karena Raja Si Singamangaraja bukanlah seorang raja dalam pengertian yang sebenarnya. Beliau tidak mempunyai angkatan bersenjata, tidak mengenakan pajak atau upeti yang harus dibayarkan kepadanya, dan tidak mempunyai pembantu (kawula) seperti layaknya raja-raja di Jawa. Kebesaran Raja Si Singamangaraja tumbuh dengan sendirinya sehingga, ketika menyebut namanya, orang-orang selalu mendahuluinya dengan ucapan: Santabi saribu hali santabi di sangap ni Ompui, Raja Si Singa Mangaraja. Dalam adat masyarakat Batak, ompui adalah gelar tertinggi dan dahulu, inilah yang diberikan kepada Raja Si Singamangaraja.
Itulah pengakuan F.J. Nainggolan, salah seorang intelektual Batak, yang pada zaman itu yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Beliau menikah dengan seorang wanita kulit putih dan salah seorang anaknya bernama W.F. Nainggolan atau lebih dikenal dengan nama Boyke. Boyke Nainggolan adalah perwira TT-I/Bukit Barisan, dengan pangkat terakhir mayor, dan pernah belajar di General Staff and Command College di Forth Leavenworth, Amerika Serikat.

Penghormatan Orang Batak Terhadap Sisingamangaraja


Sejak tewasnya R. Sori Mangaraja III dalam perang melawan Aceh, orang Batak hidup tanpa kehadiran seorang pemimpin. Tidak ada satu orangpun pemimpin yang dapat dijadikan panutan yang punya kewibawaan yang dapat memberikan satu putusan yang adil, bilamana terjadi satu silang sengketa. Tidak ada, yang oleh orang Batak dikatakan sebagai pamuro so mantat sior, parmahan so mantat batahi, si tiop dasing pamonoran, tu ginjang so ra mungkit-tu toru so ra monggal, gambaran dari satu pribadi pemimpin yang adil dan bijaksana.
Tidak adanya pemimpin ini menyebabkan masing-masing kelompok marga mengangkat rajanya sendiri yang dikenal dengan raja mar opat, yaitu 4 orang pemimpin yang diambil dari tetua marga masing-masing. Mereka inilah (yang di aku sebagai raja) bertindak menetapkan berbagai hal dalam kelompoknya, termasuk menyelesaikan silang sengketa. Akan tetapi otoritas mereka sangat terbatas, yaitu hanya dalam kelompok marga mereka sendiri. Hal inilah yang terjadi sampai di tabalkannya Manghuntal Sinambela sebagai raja orang Batak pertama dengan gelar Raja Sisingamangaraja.
Sejak ditabalkan sebagai raja, banyak cerita yang berkembang sekitar raja ini. Cerita-cerita yang menyelimuti dirinya, sejak masih dalam kandungan, masa remaja sampai pada masa kepemimpinannya yang mau tidak mau menyebabkan orang ber-decak kagum. Menurut cerita orang-orang tua, konon dia sering menyamar sebagai orangtua renta, meminta segelas air atau sesuap nasi kepada penduduk. Hal ini dilakukan karena sering terjadi, bila beliau melewati sebuah tempat, penduduk sudah lebih dahulu melepas orang-orang yang terpasung, bahkan melepas burung yang ada dalam sangkar, karena beliau sangat tidak senang melihat mahluk yang ter-aniaya. Kharismanya yang begitu besar, menyebabkan orang tidak berani bertatap pandang dengannya, bahkan untuk menyebut namanya, seseorang harus meminta ma’af lebih dahulu.
Cerita-cerita seperti inilah yang berkembang ditengah masyarakat, sehingga tidak heran, bila seorang C.B. Tampubolon yang lebih dikenal dengan Oppu Boksa II, ayahanda Ir. G.M. Tampubolon pendiri Institut Teknology Indonesia (ITI). Inilah pengakuannya “Pada waktu saya kecil”, demikian cerita Op.Boksa II yang kala itu telah berumur 82 tahun, “saya bermain-main di pasar Balige. Karena hari pekan, suasana pasar begitu ramai. Tiba-tiba suasana menjadi hening, ibarat jarum jatuh pun akan kedengaran. Saya heran lalu dengan susah payah saya menyelinap ingin tahu apa yang terjadi. Jalan di sekitar pasar kosong, sementara di kedua sisi jalan banyak orang berdiri, menatap ke kejauhan. Dari jauh saya melihat seorang penunggang kuda yang berjalan perlahan. Begitu dia lewat, pasar kembali ramai. Saya mencoba bertanya siapa orang tersebut. Tidak ada yang menjawab. Belakangan saya tahu bahwa yang lewat itu adalah Raja Sisingamangaraja”. Itulah cerita C.B. Tampubolon kepada saya pada tahun 1984.

0
Kumpulan Anekdot, Joke dan Humor Gus Dur (2)

Obrolan Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa…
Setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”


“Itu.. patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.


Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tau nggak… kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.
“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!”, teriak Gus Dur.
“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.


Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat…
“Ini… jam tangan saya ilang…”, jawab Gus Dur kalem.
Presiden Indonesia: “Wah… kok bisa tau juga?”
“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Perancis tersebut.
Presiden Indonesia (Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”
 
TOGA LAUT PARDEDE | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog