Kamis, 26 Mei 2011

0
Adat Batak dari sudut pandang Kristen (2)

C. Dalihan Na Tolu dan Pelanggaraan Hukum TUHAN



Melalui uraian di atas, jelas bahwa upacara adat merupakan upacara agama yang
ditujukan bagi nama dan kemuliaan Mulajadi Nabolon. Struktur Dalihan Na Tolu
dicipta oleh iblis dan kemudian diilhamkan kepada leluhur Batak, kemudian
diajarkan kepada keturunannya. Ciptaan iblis akan memberikan kemuliaan kepada
si iblis sendiri. Sama seperti mobil Toyota yang memberikan kemuliaan kepada
perusahaan dan bangsa yang menciptakannya. Mereka berupaya membuat
kendaraan yang terbaik, bukan hanya untuk laku dijual, namun juga karena hal itu
akan memberikan kemuliaan kepada perusahaan atau bangsa yang menciptanya.

Struktur Dalihan Na Tolu merupakan gambaran atau peta dari dewa sembahan
leluhur yang hidup di banua ginjang (dunia atau langit atas). Keberadaan ketiga
dewa Batak di langit atas digambarkan atau dipetakan di bumi (banua tonga) oleh
unsur pembentuk Dalihan Na Tolu. Perbuatan ini merupakan pelanggaran terhadap
Hukum Taurat pertama, yaitu:
“Akulah YHWH = Yahowa Tuhanmu, yang membawa engkau keluar dari
tanah Mesir, tanah perbudakan. Jangan ada padamu Elohim (illah)
(sesembahan) lain dihadapan-Ku”. (Ulangan 5:6-7)

Dengan melakukan upacara adat kita memberikan jalan masuk pada kehadiran roh
sembahan leluhur di dalam kehidupan kita. Artinya, kita menerima illah lain di luar
TUHAN (Bapa di dalam nama Yesus Kristus) yaitu Debata Mulajadi Nabolo, Batara
Guru, Mangala Sori, Mangala Bulan, dan Debata Asiasi. Kita bahkan telah memberi
diri kita sebagai “Peta dari Roh Sembahan Leluhur” itu sendiri, yaitu “Peta Iblis”.
Pelaksanaan upacara adat Batak juga membuat kita melanggar Hukum Taurat yang
kedua yaitu:
“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di
langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah”. (Ulangan 5:8)

Orang Batak pada masa Hasipelebeguon tidaklah membuat patung untuk roh
sembahannya. Tidak ada patung untuk Mulajadi Nabolon, Batara Guru, Mangala
Sori, Mangala Bulan, Boru Saniang Naga, dan dewa-dewa lainnya. Orang Batak
tidak memiliki kebiasaan membuat patung batu atau kayu untuk sembahannya dan
kemudian menjadikannya sebagai objek penyembahan, sebagaimana kebiasaan
yang terdapat pada agama suku-suku bangsa yang ada disekitar bangsa Israel
dahulu.

Bangsa-bangsa di daerah Palestina memiliki dewa-dewa sembahannya seperti dewa
Milkom, Baal, Kamos, Asytoret, dan Dagon dan berbagai dewa lainnya. Mereka
membuat berbagai macam patung yang merupakan gambaran dari kehadiran dewa
sembahan yang tidak bisa dilihat. Patung itu terbuat dari batu, tembaga, emas
ataupun dari kayu. Harun, saudara Musa juga terjebak untuk membuat patung
lembu emas ketika bangsa itu berada di padang gurun. Melalui patung itu mereka
berbicara kepada dewa sembahannya. Kehadiran patung itu merupakan simbol dari
kehadiran dari dewa sembahannya. Dengan membawa patung itu ke medan
peperangan, mereka telah membawa dukungan kuasa roh sembahannya untuk
memenangkan peperangan.


Dengan menyembah patung dewa, mereka telah menyembah roh itu. Pahatan
patung dewa merupakan proyeksi, Image atau perwakilan dari kehadiran roh
sembahan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dewa sembahan itu berada di alam
gaib dan tidak dapat dilihat, tetapi personifikasi dewa tadi telah dinyatakan pada
patungnya yang dibuat dari batu, kayu, tembaga, atau emas, sehingga dapat
dilihat oleh mata manusia.



Patung-patung (gana-ganaan) yang dibuat pada masa dahulu oleh orang Batak
hanyalah merupakan suatu bentuk perlindungan gaib (pagar) yang dibuat untuk
menangkal serangan roh-roh jahat. Patung-patung itu ditempatkan pada lokasilokasi
tertentu sebagai pagar perlindungan gaib, dan bukan sebagai benda yang
disembah-sembah.

Dalam agama Batak personifikasi dari kehadiran para roh sembahannya tidak dibuat dari patung batu, kayu, tembaga, ataupun emas. Patung dalam agama Batak tidak terbuat dari benda mati, tetapi terbuat dari darah dan daging, yaitu tubuh manusia.

Personifikasi dan gambaran dari kehadiran roh itu dinyatakan dalam diri orang
Batak itu sendiri. Upacara adat adalah upacara yang menjadikan orang Batak
sebagai patung-patung hidup dari ketiga roh sembahan, yang merupakan pancaran
dari Debata tertinggi Mulajadi Nabolon. Misalnya, kalau seseorang ingin
menyampaikan permohonannya kepada debata, maka ia menyampaikannya
kepada hulahula, dan memperoleh berkat dari debata juga melalui hulahula sebagai
patung hidupnya.

Orang Batak merupakan pahatan hidup yang merefleksikan kehadiran roh
sembahannya yang berada di langit atas (banua ginjang). Dengan melakukan
upacara adat, mereka telah menjadi patung hidup dari Batara Guru, Mangala Sori,
dan Mangala Bulan, ataupun Debata Asiasi. Sehingga, pelaku upacara adat adalah
patung-patung hidup dari Mulajadi Nabolon. Hulahula, Dongan Sabutuha, dan Boru
adalah patung-patung hidup dari ketiga dewa Batak. Dalihan Na Tolu merupakan
gambaran rohani atau tiruan (tumiru) dari eksistensi dan relasi dari ketiga dewa
Batak yang berada di langit atas. Firman Tuhan sangat jelas melarang:

“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi dibawah”.

Dengan melakukan upacara adat kita telah melanggar Hukum Taurat kedua, baik
disadari ataupun tidak disadari.

Istilah “dosa” dalam Alkitab berasal dari kata “Hamartia” (Yun), yang artinya
melenceng atau meleset dari sasaran. Dosa merupakan segala pikiran, perasaan
dan tindakan kita yang tidak memenuhi standar Firman Tuhan, atau menyimpang
dari Kebenaran Firman-Nya. Dosa merupakan gap (jurang pemisah) antara standar
penciptaan manusia dengan realita kehidupan manusia. Alkitab memaparkan
bahwa manusia dicipta sebagai Peta, Gambar, atau Citra TUHAN, Imago Dei.

“Maka TUHAN menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”.
-------------------------------------------------------------------------------------
Keterlibatan dalam suatu upacara adat membuat seseorang yang dicipta
sebagai Peta TUHAN berubah menjadi “Peta Mulajadi Nabolon” atau lebih
jelas lagi, “Peta Iblis”. Sebagai Hulahula dia merupakan peta atau patung
hidup dari Batara Guru, sebagai boru dia merupakan peta atau patung
hidup dari Mangala Bulan, dan sebagai Dongan Tubu dia merupakan peta
atau patung hidup dari Mangala Sori.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Kondisi inilah yang dinamakan dengan dosa. Orang Batak telah menyimpang dari
standar penciptaan dirinya oleh Tuhan sebagai “Peta TUHAN”, dan berubah menjadi
“Peta Mulajadi Nabolon”, atau “Peta Iblis”. Dosa telah menimbulkan krisis identitas
dan potensi diri yang besar di dalam diri manusia, dan juga dalam bangsa Batak.
Perbuatan ini sangat menimbulkan murka Tuhan dan mendatangkan kutuk yang
akan menimpa kita sampai kepada generasi keempat dibawah. Firman Tuhan:

“YHWH (Yahowa) adalah Tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku (menyenangi segala sesuatu yang berasal dari roh sembahan leluhur). Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku
(membenci segala sesuatu yang berasal dari penyembahan berhala) dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku (bukan pada perintah roh sembahan leluhur)”(Ulangan 5:9 -10)

Kutuk itu akan bekerja secara lambat namun pasti, baik dipercaya atau tidak
dipercaya oleh orang Kristen, karena Firman Tuhan tidak pernah berubah. Ulangan
Pasal 28 dipenuhi dengan berbagai macam berkat dan kutuk bagi orang yang
mentaati Firman Tuhan atau melanggarnya.

“Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN (YHWH:Yahowa),
Elohim (Tuhan) mu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan
ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu hari ini, maka segala kutuk ini
akan datang kepadamu dan mencapai engkau: Terkutuklah engkau di kota
dan terkutuklah engkau di ladang. Terkutuklah bakulmu dan tempat
adonanmu. Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu
sapimu dan kandungan kambing dombamu. Terkutuklah engkau pada waktu
masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar”. (Ulangan 28:15-19)

Ayat ini selanjutnya memberikan daftar bentuk kutukan yang akan diterima oleh
Israel jikalau mereka tidak mau mendengarkan-Nya, seperti: huruhara, penyakit
sampar, dan epidemi batuk, kudis, borok dan penyakit lain yang tidak bisa
disembuhkan, kegilaan, depresi berat, pemerasan, penindasan, pemaksaan pindah
agama, dan lain-lain. Silahkan Anda menambahkan daftar kutukan tersebut.

Kita harus sadar, tanpa diundang iblis akan hadir, apalagi kalau diundang. Kalau
disuruh pergi, dia tidak akan mau, kecuali dipaksa dengan kuasa Yesus Kristus.
Itulah sifat iblis. Karena itu upacara adat merupakan dasar yang kuat bagi iblis
untuk mengklaim dan mempertahankan di hadapan Tuhan akan kehadirannya
dalam kehidupan orang Batak Kristen. Kuasa Tuhan tidak dapat (bukan tidak
mampu) menghalanginya, karena berkaitan dengan kebebasan yang telah
diberikan-Nya kepada manusia. Kala kebebasan itu diserahkan kepada oknum yang
lain di luar diri-Nya, maka Tuhan akan mengundurkan diri dari tempat-Nya dalam
hidup orang itu.

“Peta TUHAN” hanya menyediakan tempat dalam roh manusia bagi kehadiran
TUHAN Semesta Alam, yang kita kenal kemudian di dalam nama Tuhan Yesus.
Hanya TUHAN yang boleh hadir di dalam roh dan kehidupan kita, sebagai Tuhan,
Juruselamat, Pemimpin, Guru dan Raja kita. Tidak boleh ada pribadi yang lain,
termasuk Mulajadi Nabolon, ketiga dewa Batak maupun roh-roh sembahan leluhur
lainnya. Karena itu Paulus menyebutkan tubuh kita ini adalah Bait Roh Kudus.

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di
dalam kamu”. (I Korintus 6:19)

Penyerahan tubuh menjadi “Peta Mulajadi Nabolon” merupakan dosa penajisan Bait
Roh Tuhan. Bait Tuhan hanya diperuntukkan bagi kehadiran Roh Kudus dan untuk
kemuliaan Tuhan. Bait Tuhan tidak untuk didiami roh-roh najis dan bukan untuk
memetakan kemuliaan roh-roh sembahan leluhur.

Lagipula, Tuhan Yesus tidak pernah akan berkenan hadir dalam suatu upacara
adat, sekalipun dibungkus dengan doa kristiani, dan memakai nama Tuhan Yesus.



Karena, TUHAN tidak pernah membagikan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Tuhan
tidak pernah berkenan dengan sikap hati yang menduakan. Bagaimana Tuhan
Yesus akan sudi hadir dalam suatu upacara adat yang Dia tahu membawa
kemuliaan bagi iblis. Dia tidak akan berkenan hadir disana dan duduk bersama -
sama dengan para roh sembahan leluhur Batak. Hanya pikiran yang belum
dikuduskan yang dapat menerima perkara itu. Yesaya 42:8 menegaskan:

“Aku ini TUHAN (Yahowa), itulah nama-KU; Aku tidak akan memeberikan
kemuliaan-Ku kepada yang lain, atau kemasyuran-Ku kepada patung”.

Ada sebagian orang yang membenarkan upacara itu dengan alasan bahwa mereka
melakukan doa dan umpasa yang memakai nama Yesus. Apalagi kalau pendeta
yang memimpin doa itu. Membungkus upacara adat dengan doa dan umpasa yang
membawa nama Yesus sama dengan melakukan dosa pelanggaran Hukum Taurat
ketiga, yaitu larangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan.
“Jangan menyebut nama TUHAN (Yahowa), Elohimmu, dengan
sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang
menyebut nama-Nya dengan sembarangan”. (Ulangan 5:11)
doa seperti itu merupakan tindakan mempergunakan nama dan kuasa Yesus secara
sembarangan, yaitu sekehendak hati sendiri dan tidak tunduk kepada tuntutan Roh
Kudus. Nama Tuhan Yesus hanya dapat kita pergunakan sesuai Firman Tuhan dan
bimbingan Roh Kudus yang telah mengilhamkan Alkitab. Hanya dengan cara
seperti itu Kuasa Tuhan Yesus akan mendukung segala ucapan dan doa kita. Di luar
itu, penggunaan nama TUHAN menjadi tindakan memakai nama Tuhan secara
sembarangan saja, dan tidak pernah akan berkenan di hati Tuhan.

Pemakaian nama Tuhan Yesus secara sembarangan itu hanya pembenaran pelaksanaan upacara agama Hasipelebeguon dalam hidup kekristenan. Nama
Tuhan Yesus hanya boleh dipakai di bawah bimbingin Roh Kudus. Roh Kudus hanya
akan membimbing kita memakai nama Yesus selaras dengan Firman Tuhan dan
untuk kemuliaan Nama Yesus, bukan Mulajadi Nabolon. Nama Tuhan tidak boleh
dipergunakan untuk perkara -perkara yang justru bertentangan dengan kehendak
dan maksud Tuhan.

Di atas telah dikemukakan, bahwa upacara adat merupakan jalan masuk bagi
kehadiran roh sembahan leluhur Batak. Kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu
merupakan gambaran kehadiran ketiga dewa sembahan leluhur. Jadi upacara adat
pada hakekatnya merupakan suatu persekutuan rohani dari pelaku upacara itu
dengan roh sembahan leluhur. Karena itu, tidak mungkin Tuhan Yesus berkenan
hadir dalam acara itu sekalipun dilakukan dengan doa dan umpasa yang memakai
nama Yesus. Alkitab mengungkapkan bahwa persyaratan bagi kehadiran Tuhan
Yesus dalam suatu persekutuan adalah:

“Seba dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku (nama
Yesus), disitu Aku ada ditengah-tengah mereka”. (Matius 18:20)

Syaratnya harus dan mutlak dalam nama Yesus, tidak bisa ditambah atau dikurangi
dengan nama yang lain; hanya dalam satu-satunya nama, nama YESUS, dan bukan
berkumpul dalam nama tiga dewa Batak, bukan dalam nama Mulajadi Nabolon.
Bukan pula dalam nama Mulajadi Nabolon plus nama Yesus. Persekutuan adat
adalah persekutuan yang membawakan nama Mulajadi Nabolon melalui ketiga
putranya dalam Dalihan Natolu. Tuhan Yesus tidak akan pernah hadir dan tidak
bisa dipaksa hadir dan mendukung acara yang tidak berkenan di hati-Nya, tidak
peduli siapapun yang memimpinnya. Dia adalah TUHAN, Yang Mahakudus, yang
tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain.

Tuhan tidak pernah tertarik kepada cara-cara penyembahan yang merupakan
penggabungan antara cara iblis dengan prinsip Firman-Nya. Hanya hati orang Batak
yang masih terikat oleh roh sembahan leluhur yang merasa ro hani dan berhikmat
dengan cara hidup yang seperti itu. Hanya iblis yang suka meniru dan memalsukan
hal-hal dari TUHAN untuk dirinya sendiri. Peta Tuhan dipalsukannya menjadi
menjadi peta iblis. Tuhan Trinitas dipalsukannya dengan membuat “Tiga Debata”.
Tuhan tidak memiliki sifat suka meniru, apalagi memalsukan segala buatan iblis
dan menggunakan bagi diri-Nya, karena Dia adalah TUHAN, Yang Mahakudus, kaya
dalam segala sesuatu. Sehingga Dia tidak akan pernah mau dan senang
mempergunakan segala sesuatu hasil pemikiran iblis yang diilhamkannya kepada
manusia. Bahkan Dia sangat jijik dengan segala sesuatu yang dibuat oleh iblis.
Karena itu, TUHAN tidak pernah tertarik sedikitpun untuk mempergunakan aturan
hidup agama Batak di dalam kehidupan anak-anak-Nya. TUHAN itu Pencipta Yang
Mahacerdas dan Mahakreativ. Setiap hal yang dicipta-Nya sangat unik dan khusus.
Lihatlah pada manusia, tidak ada seorangpun manusia yang dilahirkan sama.
Betapapun miripnya orang kembar, tetapi mereka tetap memiliki perbedaan yang
khusus yang merupakan keunikan masing-masing. Peniruan yang dilakukan oleh
atas kreativitas Tuhan menunjukkan keterbatasan dan kemiskinan kreativitas iblis.

Sinkretisme adat Batak dalam kehidupan orang Kristen menunjukkan kemiskinan
kreativitas dari orang-orang yang mengaku pengikut Yesus. Sehingga kita harus
membajak hak ciptaan iblis dan mempergunakannya dalam hidup kekristenan kita.
Sinkretisme ini juga disebabkan oleh ketidak-mengertian orang Kristen akan
“mandat budaya” yang diemban oleh setiap yang percaya kepada TUHAN.
Ketidak-mengertian itu berakar dari kurangnya didikan tentang kebenaran TUHAN
secara mendalam.

Kalau pikiran kita sebagai orang Kristen telah mengalami pembaharuan oleh Roh
Kudus, maka kita akan gampang untuk mengerti dan memahami kemahakreativitasan
Tuhan dan penolakannya akan segala perkara yang diciptakan dan
diilhamkan oleh iblis. Tuhan tidak pernah mau menjadikan diri-Nya sebagai
“pembajak” karya iblis. Dengan memahami kebenaran itu, kita juga tidak akan mau
mempergunakan konsep, ide, paradigma dan norma yang berasal dari iblis, dan
kemudian mencampur-baurkannya dengan Firman TUHAN. Kita juga akan sangat
membenci hal –hal yang berasal dari si iblis. Mana mungkin kita akan melakukan
sinkretisme dalam iman dan ibadah kita kepada Yesus Kristus?
Kita tahu, inti dari seluruh Hukum Taurat dan kitabn para nabi terletak pada salah
satu perintah Tuhan Yesus:
“Kasihilah Bapa, Tuhanmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap hatimu,dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yangterutama dan yang pertama”. (Matius 22:38)
Penulis akan membagikan kesaksian pribadi yang dialami pada tahap awal ketika
Tuhan Yesus mempersiapkan penulis untuk menuliskan masalah upacara adat ini,
khususnya dalam mengajarkan kebencian TUHAN akan simbol-simbol berhala
leluhur.

Dalam sebuah Bible Camp Mahasiswa yang dilaksanakan di Tomok, Sumatera
Utara, Penulis mendapat kesempatan untuk membawakan Firman Tuhan dalam
beberapa sesi. Sesi pertama yang membahas tentang masalah “kekudusan hati”
disampaikan dalam keadaan kepala yang tiba-tiba menjadi pening, pikiran kacau
dan tidak bisa konsentrasi. Hal ini berlangsung sampai pada akhir sesi, sehingga
uraian topik itu terkesan asal-asalan saja. Penulis merasa aneh dan bertanya-tanya
pada Tuhan atas kondisi ini, karena belum pernah mengalami kejadian yang seperti
ini. Padahal sebelum menyampaikan sesi itu, pikiran dalam keadaan tenang, badan
sehat dan tidak ada sesuatu masalah yang berarti. Anehnya lagi, setelah sesi
berakhir, kondisi itupun segera menghilang. Jawaban Tuhan atas kejadian itu
belum juga diperoleh sampai keesokan harinya, dimana penulis harus
menyampaikan sesi kedua. Penulis berdoa di kamar dan meminta kepada Tuhan
petunjuk agar kejadian kemarin tidak terulang lagi. Setelah berdoa penulis keluar
dari kamar dan mengunci pintunya. Pada saat mengunci kamar itu, tiba-tiba pikiran
penulis mendapatkan semacam terang dari Tuhan, yang bertanya tentang benda
apakah yang ada dalam tangan penulis. Dalam hati penulis menjawab, sebuah
kunci kamar yang memakai gantungan berupa ukiran patung kayu orang Batak
dahulu. Selama ini penulis menganggap hal itu hanya sebagai benda souvenir saja.
Pada saat itu, di dalam pikiran, Tuhan menjelaskan secara mendalam bahwa
souvenir ini merupakan simbol dari berhala leluhur. Tuhan dengan tegas
menyatakan kepada penulis akan ketidaksetujuannya untuk membawa simbol
berhala itu di dalam persekutuan dengan diri-Nya, dan karena itu Tuhan telah
membiarkan penulis mengalami serangan roh-roh jahat yang mengacaukan
penyampaian Firman-Nya sebelumnya, supaya penulis menguduskan diri dari
segala bentuk berhala leluhur. Karena itu, penulis segera meminta ampun kepada
Tuhan dan tidak mengantongi dan membawa kunci itu ke ruangan ibadah. Sesi
keduapun menjadi sesi yang dapat disampaikan dengan baik, dan berakhir dengan
hati yang dipenuhi dengan sukacita dari Tuhan.

bersambung ........

3
Adat Batak dari sudut pandang Kristen (1)


INJIL DAN ADAT BATAK

Oleh James Silalahi

Para Kata:


I. Apa dan Mengapa Adat Batak?

1.Konflik antara adat dan Injil

“Ompu parjolo (Raja Jolo) martungkot sialagundi (sampiran) Pinungka ni parjolo siihuthonon ni na di pudi”.
Artinya, hasil karya (adat istiadat) yg diciptakan oleh nenek moyang diikuti oleh keturunannya.

Apa yang dimaksud dengan “Adat”?
Menurut kamus umum Poerwadarminta, kata “adat” ( Yunani, paradosis) berarti sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang, sesuatu yang lazim dilakukan oleh masyarakat.
Adat juga dimengerti sebagai bagian dari kebudayaan yang dimengerti oleh Richard Niebuhr sebagai “the total process of human activity and the total result of such activity…the work of men’s minds and hands”.

Dr Jan S. Aritonang:
“Persoalan dan ketegangan antara Kekristenan dan Habatahon, atau antara Injil dan Adat Batak, sebenarnya sudah merupakan persoalan klasik; sudah muncul sejak berlangsungnya perjumpaan di antara keduanya, katakanlah sejak awal abad ke-19, ketika para Penginjil Barat datang ke Tanah Batak”

Lothar Schreiner
mencatat bahwa para utusan Zending dan raja membagi adat atas ketentuan-ketentuan dan unsur-unsur yang bersifat anti Kristen, yang netral dan pro-kristen.

Pdt. I.L. Nomensen
membagi Adat tsb ke dalam tiga kategori:
a. Adat yang netral
b. Adat yang bertentangan dengan Injil
c. Adat yang sesuai dengan Injil

2. Sikap yg menerima adat (pro adat)


Humala Simanjuntak:
“Sebelum hadirnya utusan Injil tsb, orang Batak telah mengenal dan mengalami nilai-nilai religius yang berasal dari nenek moyang orang Batak, yakni si Raja Batak. Nilai nilai religius itu dikaitkan semuanya dengan keseluruhan budaya asli Batak”.
- “Keseluruhan nilai-nilai (values) tersebut dapat dikatakan merupakan deep culture, yaitu nilai-nilai yang tidak luntur oleh hujan dan tidak layu oleh panas. Dia kokoh dan tahan uji, sulit dihapuskan oleh pengaruh luar, dia selalu relevan dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan baru”.

B. Sidabutar:

“…tanpa agama, kebudayaan tak punya arah tujuan yang jelas. Sedang tanpa kebudayaan agama tidak menemukan dasar pijaknya di bumi. Jelas bahwa agama dan kebudayaan itu sesungguhnya saling membutuhkan. Jelas pula bahwa adat istiadat itu pada dasarnya bukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agamawi”.

3. Sikap yg menentang adat (Kontra adat)

Kelompok yang anti Adat Batak & buku yang ditulis:
- Pdt A.H. Parhusip, Jorbut Ni Adat Batak Hasipelebeguon.
- Edward B. Hutauruk, Adat Batak- Tinjauan Dari Segi Iman Kristen dan Firman Allah
- Henry James Silalahi: Pandangan Injil terhadap Upacara Adat Batak
- James Silalahi:
“Hadirnya seluruh unsur Dalihan Natolu… merupakan lambang dari kehadiran para roh sembahan leluhur dalam acara tersebut… Karena itu, setiap pelaku upacara agama Batak dibentuk secara rohani menjadi ‘Peta Tiga Dewa Batak’ atau ‘Peta Mulajadi Nabolon’, atau lebih tegas lagi ‘Peta Iblis’ “.
- Parhusip:
“Husungkan ma, dia ma tahe adat Batak na so ulaon hasipelebeguon. Nda sipelebegu do sude halak Batak andorang so ro dope hakristenon? Tung tagamon ma ulaning adong adat Batak na ias (sirang) sian hasipelebeguon? Molo adong, hatahon ma na dia ma i? Nda tubu di hasipelebeguon do na jolo ompunta di Batak? …”.
Dasar Alkitab: Mat 15:1-20, 1Pet.1:18-19 dan Gal.3:27.
- Mat.15: 6b
“… Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.
- 1Pet.1:18-19.
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus…”
-Gal.3:27:
“Karena kamu semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus” (Gal.3:27).

James Silalahi menulis tentang Nomensen:
“Namun sampai akhir hidupnya, Nomensen gagal menyelesaikan masalah tersebut. Salah satu sumber kegagalan Nomensen terletak pada kategori yang dibuatnya sendiri. Nomensen sulit menentukan upacara adat Batak mana yang tidak bertentangan dengan Injil dan upacara adat mana yang netral”.

Tuduhan terhadap pelaku Adat Batak:
1. Terlibat dalam kuasa kegelapan, mempraktekkan hasipelebeguon.
2. Kompromi & Sinkretisme.
3. Agama
4. Merampas hak Allah.

II. Bagaimana Memahami Adat Batak?


1.Pandangan Alkitab: Positif dan Negatif.
Bangsa Israel disebut telah berdosa kepada Tuhan, “karena mereka telah menyembah allah lain, dan telah hidup menurut adat istiadat bangsa-bangsa yang telah dihalau Tuhan dari depan orang Israel” (2 Raja2 17:7b-8).
Di pihak lain,
“… dilihat merekalah bahwa rakyat yang diam di sana hidup dengan tenteram, menurut adat orang Sidon aman dan tenteram. Orang-orang itu tidak kekurangan apapun di muka bumi, malah kaya harta”. (Hakim2 18:7)
- “Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat” (Yoh.19:40)
- “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun (adat istiadat) … tetapi tidak menurut Kristus” (Kol.2:8).
“Di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek morangku” (Gal.1:14).
-“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi…bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang, aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil”(1Kor.9:19-23).

2.Adat Sebagai Hasil Karya Manusia

Adat diciptakan oleh manusia. Memahami adat, tidak terlepas dari
memahami manusia.
a. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kej.1:26).
b. Manusia telah jatuh ke dalam dosa
- Kej.3
- Ro.3:9-20.
Karena itu:
- Tradisi salah satu suku di Afrika.
- Band. Ulangan 22;13-30; khususnya ayat 22.



HAKEKAT DAN MAKNA UPACARA ADAT BATAK



Sinkretisme dalam kehidupan orang-orang Batak didasarkan pada pemahaman, bahwa upacara adat itu hanya merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur. Karena itu keberadaannya perlu dilestarikan dengan cara menyingkirkan beberapa hal yang dinilai me ngandung unsur Hasipelebeguon seperti: perdukunan (Hadatuon), kesurupan (siar-siaran), pembuatan patung-patung (gana-ganaan), jimat (parsimboraon), menyembah setan (mamele begu) dan hal-hal lainnya.
Hasipelebeguon itu hanya sebagian dari bentuk tipuan yang dimainkan oleh iblis. Di
luar itu, masih banyak lagi bentuk hasipelebeguon lain yang sangat dibenci oleh
Tuhan. Hasipelebeguon itu mengambil bentuk yang lebih halus, sehingga sekilas
bisa dianggap tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.

Kita tidak pernah mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam terhadap upacara
adat: tentang hakikat, makna, dan tujuan dari upacara adat itu sebenarnya. Kita
tidak pernah bertanya, apakah arti keberadaan upacara itu bagi leluhur yang hidup
pada masa sebelum Injil tiba di tanah Batak. Apakah benar bahwa upacara itu
sungguh-sungguh tidak bertentangan dengan Firman Tuhan? Apakah layak sebagai
pengikut Kristus kita terlibat di dalamnya? Kita berpikir, karena hampir semua
orang telah melakukannya, maka tidak ada sesuatupun yang salah. Bahkan hampir
semua pemimpin umat Tuhan terlibat dalam aktivitas itu. Kita juga beranggapan,
bahwa identitas baru sebagai seorang Batak pengikut Yesus tetap didasarkan pada
nilai-nilai yang dianut oleh leluhur yang hidup dizaman Hasipelebeguon. Kita telah
menjadi orang Kristen yang kompromis dan permisif, seperti ungkapan Batak yang
mengatakan: “Eme na tasak digagat ursa, aha na masa ima na taula”.

Sinkretisme dalam kekristenan Batak dihasilkan oleh cara berpikir parsial, yang melihat upacara adat hanya sebagai unsur dari kebudayaan Batak yang terpisah
dari unsur-unsur budaya lainnya, seperti: religi, kesenian, hukum, dan lainnya.
Pandangan parsial merupakan suatu pola pikir yang menguasai pemikiran orang
Eropa pada abad 19. Mereka memisahkan antara religi dengan berbagai unsur
kebudayaan lainnya, seperti politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain.
Pemikiran yang demikianlah yang digunakan Missionaris untuk menilai kebudayaan
Batak. Kebudayaan Batak dinilai dari sudut pandang orang Eropa, bukan dari sudut
pandang orang Batak itu sendiri.

Pendekatan antropologi memberikan pemahaman lebih menyeluruh (holistik)
tentang upacara adat. Pendekatan ini memandang upacara adat tidak hanya sebagai aktivitas sosial yang berdiri sendiri, tetapi berupaya menggambarkan segala nilai, ide, gagasan, paradigma, norma, dan kuasa roh yang ada dibelakangnya. Sehingga dapat digambarkan aktivitas itu sebagaimana yang dilihat oleh masyarakat pelaku budaya itu sendiri.

Penelitian antropologi memperlihatkan bahwa masyarakat Batak bersifat religius.
Artinya, seluruh unsur kebudayaannya dipengaruhi dan dibentuk oleh keyakinan
religi leluhur. Religi yang dimaksud adalah “agama Batak” atau Hasipelebeguon.
Segala upacara adat didasarkan atas ide, gagasan, nilai, paradigma, ajaran dan
kuasa dari roh sembahan leluhur. Jadi, upacara adat bukan sekedar tradisi leluhur,
melainkan rangkaian ritual agama Batak yang diajarkan kepada keturunannya.
Melalui upacara adat itu, para leluhur berupaya mengatasi berbagai bahaya yang
mengancam kehidupannya dan menjamin berkat (pasu-pasu) dari para roh yang
menjadi sembahan mereka. Religi Batak mengenal nama dewa yang diyakini
sebagai dewa tertinggi yang dipanggil dengan Ompu Mulajadi Nabolon atau Debata
Mulajadi Nabolon. Disamping itu dikenal juga beberapa dewa lainnya yang
bernama:
 Batara Guru,
 Mangala Bulan,
 Mangala Sori,
 Debata Asiasi,
 Boraspati Ni Tano,
 Boru Saniang Naga,
 roh-roh para leluhur dan berbagai macam jenis begu lainnya.

Seluruh roh sembahan ini dimanfaatkan untuk melindungi mereka dari berbagai entuk bahaya dan malapetaka, dan menjamin tercapainya kekayaan (hamoraon), kemuliaan (hasangapon), dan keberhasilan hidup (hagabeon).

Dengan menyebut upacara “agama Batak” dengan istilah “tradisi warisan leluhur”
atau “adat”, maka Iblis berhasil memperdaya banyak orang Kristen, dengan
membutakan mata rohaninya dari segala jerat kelicikan Iblis yang di-sembunyikan
di dalam upacara itu. Hal itu lebih dimungkinkan lagi karena kita tidak pernah bertanya lebih dalam tentang apakah sesungguhnya yang diwariskan oleh leluhur itu. Kita menerima begitu saja keberadaan upacara adat itu. Orang Batak lebih cenderung memahami detail dan urutan pelaksanaan upacara adat. Pembahasantentang kedua unsur ini bisa memunculkan suatu debat yang sengit dan panas. Tetapi sangat jarang dijumpai orang Batak, yang mengerti makna rohani dari upacara itu, dan yang mempertanyakan tentang prinsip-prinsip yang ada dibelakang upacara itu.

Karena itu, penulis hanya akan memperlihatkan beberapa prinsip utama yang mendasari upacara agama Batak atau upacara adat Batak. Dengan demikian, kita
akan mengerti bahwa tradisi warisan itu merupakan rangkaian upacara ritual agama leluhur. Dan kita akan memahami lebih jauh lagi bahwa upacara adat Batak
sesungguhnya bertentangan dengan Firman Tuhan.

A. Sumber Pengilhaman Upacara Adat

A.1. Turi-turian


Upacara adat Batak merupakan serangkaian aktivitas bermakna yang diilhamkan
oleh “roh” yang menjadi sembahan leluhur kita Siraja Batak, yang disebut dengan
nama Ompu Mulajadi Nabolon, yang biasa dipanggil “Debata”. Pengilhaman itu
dapat kita lihat dalam cerita lisan (turi-turian). Turi-turian itu bukan sekedar mitos
seperti anggapan banyak orang yang rasionalistik. Turi-turian itu juga menyimpan
beberapa fakta rohani dari asal muasal kehidupan religius leluhur orang Batak.
Melalui turi-turian kita dapat menelusuri sumber awal dari keberadaan adat Batak.
Manusia pertama Si Boru Deak Parujar dengan suaminya Tuan Ruma Gorga
memiliki sepasang anak kembar. Ketika itu hubungan manusia dengan para
dewa harmonis dimana mereka sering berjumpa secara langsung di puncak
gunung Pusuk Buhit. Kedua anak tersebut melakukan hubungan sumbang
sehingga para dewa marah. Mulajadi Nabolon kemudian membawa kedua orang
tua anak tersebut ke langit. Salah satu dewa, yaitu Debata Asi-asi
diperintahkan oleh Mulajadi Nabolon menemani kedua anak kembar itu.
Karena merasa kasihan, Debata Asi-asi meminta supaya Mulajadi Nabolon tetap
membimbing kedua anak manusia tersebut. Mulajadi Nabolon memberikan adat
sebagai pembimbing mereka dengan cara mamemehon (menyuapkan) adat ke
mulut keduanya. Setelah itu para dewa menjauh dan tidak mau berhubungan
langsung dengan manusia. Supaya tetap mendapat perkenanan Mulajadi
Nabolon, kedua anak kembar tersebut, yaitu si Raja Ihat Manisia dan Si Boru
Itam Manisia serta keturunannya harus memelihara adat yang diberikan oleh
Mulajadi Nabolon.
Versi lain, yang ditulis oleh Raja Patik Tampubolon, yang dikutip dari Lothar
Schreiner dalam bukunya “Telah Kudengar Dari Ayahku”:
Ketika Si Raja Batak menjadi tua, dipanggilah kedua puteranya, Raja Isumbaon dan Raja Ilontungon, supaya mereka menyiapkan baginya jamuan perpisahan. Segala sesuatu yang ia punyai telah ia serahkan kepada mereka: kekuatan,pertumbuhan, harta kekayaan, kekuasaan, kehormatan, pengetahuan,
pendidikan, dan kebijaksanaan. Putera -puteranya menjawab bahwa itu
semuanya benar, tetapi ada sesuatu yang belum diberikannya kepada mereka,
dan ia harus berpikir-pikir tentang itu. Ia tidak berhasil. Oleh sebab itu, ia
berserta kedua puteranya naik ke gunung Pusuk Buhit membawa korban
persembahan setia kepada Debata Mulajadi Nabolon untuk menanyakan
kepadanya, apa yang diminta oleh puteranya tersebut. Ia memanjatkan doa
yang panjang, sesudah itu Mulajadi Nabolon memberikan kepadanya dua kitab,
yakni Pustaha Laklak (kitab kulit) dan Pustaha Tumbaga (kitab tembaga), yang
berisikan tentang hadatuon dan habatahon (adat Batak). Kitab yang pertama
diserahkannya kepada Raja Ilontungan, dan kitab kedua kepada Raja
Isumbaon.

Pengilhaman oleh roh sembahan leluhur dinyatakan secara implisit dalam istilah
mamemehon pada cerita pertama, dan melalui pemberian kedua kitab dari Mulajadi
Nabolon pada cerita versi kedua. Jadi, terlihat bahwa upacara adat bukan merupakan hasil pemikiran dari leluhur semata, tetapi merupakan konsep, ide, paradigma, nilai budaya, norma agama yang ditransferkan ke pikiran leluhur oleh roh sembahannya. Hal ini kemudian diajarkan secara lisan kepada keturunannya. Pemahaman yang diilhamkan inilah yang harus dilakukan oleh para leluhur dan diajarkan kepada keturunannya untuk diikuti dan dilestarikan keberadaannya. Kita harus menyadari, bahwa selain dari Tuhan, Iblis juga dapat memasukkan berbagai gagasan pemikirannya ke hati dan pikiran manusia. Alkitab memberikan beberapa contoh, yaitu ketika Petrus menegor Yesus berkaitan dengan pernyataan-Nya tentang rencana penyaliban, dan kemudian Petrus dimarahi Yesus. Pernyataan Petrus ini didorong oleh kehadiran Iblis yang kemudian menyuntikkan pikirannya kedalam pikiran Petrus, yang tercetus pada ucapannya. Reaksi Yesus adalah:
Maka berpalinglah Yesus sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi
Petrus, kata -Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang
dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Markus 8:33)

Contoh lain, ketika Iblis memasukkan gagasannya kedalam pikiran Daud untuk
melakukan sensus penduduk, seperti yang tertulis pada I Tawarikh 21:
“Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung
orang Israel (1). Tetapi hal itu jahat di mata Tuhan, sebab itu dihajar-Nya
orang Israel (7).”
Bimbingan langsung iblis secara gaib di dalam hati manusia pada saat ini, juga dapat kita lihat di dalam aktivitas para dukun di dalam memeriksa, menemukan penyakit dan mengobati para pasiennya.

Persoalannya, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa roh sembahan leluhur yang disebut Debata Mulajadi Nabolon adalah benar-benar TUHAN (YHWH= terjemahan Batak: Jahowa), yaitu Pencipta Semesta Alam yang sesungguhnya.
TUHAN (Yahowa) inilah yang kita panggil sebagai Bapa di dalam Tuhan Yesus
Kristus. Sesungguhnya, TUHAN (Yahowa) tidaklah sama dengan Debata Mulajadi
Nabolon. Debata Mulajadi Nabolon adalah nama malaikat Iblis yang menguasai
wilayah kehidupan leluhur orang Batak. Malaikat Iblis itu telah menipu leluhur kita
dengan mengaku diri sebagai pencipta alam semesta. Malaikat iblis ini juga yang
telah memberikan berbagai ilmu kesaktian dan mengilhamkan upacara dan aturan
hidup agama Batak yang kita sebut ADAT.

Alkitab menegaskan bahwa para illah yang disembah oleh berbagai suku bangsa di
dunia bukanlah Tuhan (Elohim) yang sejati. Mereka adalah para malaikat iblis yang
menipu leluhur setiap suku bangsa dengan mengaku sebagai Tuhan. Hanya Bapa, yang kita kenal di dalam Tuhan Yesus, adalah TUHAN (Aku adalah Aku) Semesta
Alam. “Akulah TUHAN (YHWH) dan tidak ada yang lain” (Yesaya 45:5) Hukum
Taurat menegaskan: “Akulah TUHAN (YHWH = Yahowa, Yahweh), Tuhanmu
(Elohim), yang membawa engkau keluar dari tempat perbudakan jangan ada
padamu illah lain di hadapan-Ku” (Ulangan 5:6,7).

Kegagalan iblis untuk menyamai TUHAN dan merebut tahta -Nya di sorga seperti
yang dipaparkan dalam kitab Yesaya 14:12-23, tidak membuatnya putus asa. Iblis
melanjutkan usahanya di bumi dengan bantuan para malaikat iblis dan roh-roh
jahat. Dia berhasil menjadi tuhan di tengah-tengah banyak suku bangsa, sambil
memamerkan kesaktiannya dan kebaikan palsunya (?) untuk membuktikan
ketuhanannya kepada para leluhur suku bangsa tersebut. Debata Mulajadi Nabolon
ini adalah nama salah satu malaikat iblis yang memberontak terhadap TUHAN
(Yahowa), dan kemudian dicampakkan oleh TUHAN ke dunia.

Dalam ketidaktahuannya, leluhur bangsa-bangsa di bumi telah tertipu oleh iblis dan
menyembahnya. Iblis menyatakan dirinya melalui berbagai nama yang berbeda
pada setiap suku bangsa. Pada bangsa Batak dia mengaku sebagai Debata Mulajadi
Nabolon, atau Ompu Tuan Mulajadi Nabolon. Orang Simalungun menyebutnya
sebagai “Naibata”, dan orang Karo menyebutnya sebagai “Dibata”. Pada suku
bangsa Nias dia dinamai dengan Lowalangi, dan berbagai nama lainnya pada
berbagai religi suku bangsa di dunia.

Malaikat iblis inilah yang telah memberikan berbagai ilmu kesaktian, ilmu
perdukunan dan kemampuan gaib lainnya kepada leluhur Batak. Leluhur penulis,
Raja Silahi Sabungan, juga menerima ilmu kesaktian dan ilmu hadatuonnya dari
Debata Mulajadi Nabolon. Karena ketidaktahuannya, para leluhur telah menyembah
kepada iblis yang mengaku sebagai Mulajadi Nabolon, dan telah mengikat berbagai
perjanjian bagi dirinya dan keturunannya.

Sementara TUHAN (Yahowa), yakni Bapa di dalam Yesus Kristus sangat membenci
dan menentang segala bentuk ilmu kesaktian dan ilmu perdukunan yang ada dalam
kehidupan manusia, termasuk yang dikenal dalam masyarakat Batak. Sehingga
tidak mungkin Dia yang memberikan berbagai ilmu kesaktian dan Hadatuon kepada
leluhur kita. Kemungkinannya hanya satu, iblislah yang memberikan segala ilmu
kesaktian dan Hadatuon itu.

A.2. Rekomendasi Datu


Pengilhaman upacara adat atau upacara agama Batak oleh iblis dapat kita lihat
juga dalam kasus sehari-hari yang masih sering terjadi dalam masyarakat Kristen
Batak, dimana seseorang atau satu keluarga melakukan upacara adat berdasarkan
nasehat seorang datu (dukun). Contoh kasus:
• Seorang bapak bermarga Sagala memberitahukan kepada hula-hulanya
bahwa dia dengan anak dan cucunya akan datang ke rumah hula-hulanya itu.
Mereka datang dengan membawa makanan adat (marsipanganon) guna meminta ulos dari sang hula-hula. Dalam perbincangan selanjutnya terungkap bahwa kehidupan ekonomi dari keluarga bapak Sagala selalu susah. Dan atas nasehat seorang datu (dukun) mereka diminta untuk pergi ke rumah hulahulanya meminta ulos, supaya kehidupan ekonomi mereka akan menjadi baik.

Seorang ibu bernama Resli (samaran) amat sedih atas kondisi seorang putranya yang sering mengalami musibah, dan pada puncaknya anak tersebut mengalami depresi berat. Atas petunjuk seorang Sibaso (spirit medium) mereka diberitahu bahwa kondisi anak itu disebabkan tondinya diikat oleh suatu roh jahat. Mereka dinasehati untuk pergi ke rumah hula-hulanya guna meminta ulos. Dengan ulos pemberian dari hula-hulanya, maka tondi anak itu akan kembali dan kesehatannya diyakini akan segera pulih kembali.

Kasus di atas merupakan dua contoh kasus yang sering dijumpai di kehidupan
sehari-hari. Orang Batak melakukan upacara adat berdasarkan petunjuk dari
“Datu” atau “Sibaso” untuk mencapai sesuatu yang diinginkan olehnya. Nasehat itu
biasanya dimintakan ketika mereka mengalami suatu penyakit, kesialan, marabahaya
atau kemalangan, kesulitan ekonomi atau demi kesuksesan suatu rencana.

Rekomendasi untuk melakukan upacara adat bisa didorong oleh keyakinan sendiri
maupun atas nasehat para Datu, Sibaso atau paranormal lainnya, yang ilmunya
berasal dari malaikat iblis penguasa teritorial Batak.

Seorang rekan di Medan baru-baru ini didatangi oleh seorang familinya yang adalah seorang Parmalim. Dia datang dari bonapasogit ditugaskan oleh roh ompung mereka untuk mengumpulkan seluruh keturunannya dan melakukan upacara adat. Melalui upacara itu, mereka semua akan diberkati oleh roh tersebut dan seluruh sawah milik roh ompung mereka yang ada di kampung itu dahulu, yang sekarang telah dimiliki oleh orang lain, akan dikembalikannya kepada mereka. Sebagai anak Tuhan, rekan tadi menolak rencana itu, tetapi salah satu keluarga lain yang ada di Medan menerimanya. Pada saat itu dirumah orang yang menerima itulah, sang parmalim mengalami kesurupan roh ompungnya. Dalam kesurupan itu, roh ompung mereka itu memberi petunjuk mengenai upacara yang harus mereka lakukan. Sebelum petunjuk dib erikan,maka roh itu meminta suami-istri itu duduk bersila di depannya dengan
memakai ulos dan memegang Alkitab.

Malaikat iblis pasti akan memberikan rekomendasi bagi orang-orang yang datang
meminta jasa darinya dengan cara -cara yang berkenan dihatinya. Cara itu akan
merujuk kepada pelaksanaan upacara adat yang telah diilhamkannya kepada
leluhur orang Batak. Rekomendasi ini memperlihatkan bahwa upacara adat
merupakan upacara yang berasal dari malaikat iblis penguasa teritorial Batak,
karena itu dia tetap berupaya supaya tiap generasi orang Batak kembali
melaksanakan upacara agama itu.

Rekomendasi ini akan lebih jelas dimengerti dengan memahami lebih lanjut tentang agama Batak. Debata Mulajadi Nabolon memiliki tiga putra yang merupakan pancaran kemuliaannya, yaitu Batara Guru, Mangala Sori, dan Mangala Bulan. Mulajadi Nabolon memberikan suatu kekuasaan dan kemampuan khusus kepada ketiga putranya itu. Batara Guru menguasai dunia atas yaitu dunia para dewa (banua ginjang), Mangala Sori menguasai kehidupan di dunia (banua tonga),dan Mangala Bulan menguasai dunia bawah, dunia roh-roh jahat dan setan (banua toru).

Sebagai penguasa dunia atas, Batara Guru memiliki rahasia hikmat dan
kebijaksanaan (hahomion) debata. Dengan demikian dia memiliki kemampuan
untuk me nyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia. Batara Guru juga
memperoleh kuasa untuk menciptakan segala jenis binatang dan tumbuhan. Berkat
dari Batara Guru disalurkan melalui Hula-hula dalam pelaksanaan upacara adat.
Mangala Sori menjadi dewa yang menguasai segala ilmu Hamalimon (keimaman),
sehingga dia menjadi sumber ajaran “hamalimon” di tengah-tengah bangsa Batak.
Raja Sisingamangaraja adalah salah seorang “malim” terbesar yang pernah lahir di
dalam sejarah religi Batak.

Mangala Bulan diberikan kemampuan dalam bidang ilmu “Hadatuon” sehingga dia
menjadi sumber ilmu Hadatuon di tengah-tengah bangsa Batak. Raja Silahi
Sabungan adalah salah satu Datu Bolon yang pernah dikenal oleh masyarakat
Batak.

Kemampuan khusus yang dimiliki oleh ketiga dewa tadi berasal dari sumber yang
sama, yaitu Mulajadi Nabolon. Ketiga ilmu yang dialirkannya kepada manusia
merupakan berkat yang satu, utuh dan saling melengkapi dan diperuntukkan bagi
bangsa Batak. Sehingga wajar saja para datu, malim memberikan rekomendasi
kepada orang-orang Batak untuk melakukan upacara adat untuk mencari solusi
persoalan hidupnya. Melalui upacara adat orang diarahkan untuk mencari
penyelesaian masalah hidup kepada Batara Guru, yang kehadirannya diwakili di
dunia oleh Hula-hula. Dengan hikmat dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Batara
Guru, manusia (dalam hal ini Boru) akan mendapatkan pertolongan dari Debata
dalam mengatasi persoalan hidupnya. Pertolongan Batara Guru dinyatakan melalui
berkat yang diberikan oleh Hula-hula.

Pelaksanaan upacara adat Batak pada masa Hasipelebeguon biasanya dipimpin
oleh Datu atau Malim. Upacara adat, hadatuon dan hamalimon merupakan 3 unsur
berbeda, tapi menyatu dan melengkapi dalam agama Batak. Dalam religi Batak
terdapat 3 “pengantara” antara manusia dengan Debata, yang diturunkan dari ke -3
putra Mulajadi Nabolon, yaitu “Hulahula” dari Batara Guru, “Malim” dari Mangala
Sori, dan “Datu” dari Mangala Bulan. Ke-3 pengantara ini merupakan 3 unsur yang
sangat penting dalam religi Batak, dan ketiganya menyatu dalam kehidupan
religius masyarakat Batak sehari-hari. Ketiga pengantara ini ilmunya mempunyai
sumber yang sama, yaitu Debata Mulajadi Nabolon.

Malaikat iblis, melalui para hambanya, tidak akan merekomendasi orang-orang
yang meminta pertolongan darinya dengan cara -cara yang sesuai dengan keinginan
hati Tuhan Yesus. Karena iblis sangat mengenal siapa Yesus Kristus sebenarnya,
sangat membenci Nama itu, dan sangat berkeinginan agar manusia tidak percaya
kepada Yesus Kristus, satu-satunya TUHAN, Penasehat Ajaib, Tuhan Semesta Alam,
Yang Maha Perkasa. Dengan demikian iblis dapat memperhamba orang tersebut
dan membawanya ke dalam kebinasaan yang abadi di neraka.

A.3. Klaim Iblis

Pengilhaman upacara adat oleh iblis juga dinyatakan secara tegas oleh roh jahat
kepada penulis pada waktu pelayanan pelepasan seorang pemuda bernama
Marbing (samaran) yang terlibat ilmu perdukunan dan kesaktian yang cukup tinggi.
Dia memperoleh aneka kesaktian melalui bimbingan langsung roh jahat yang
berlangsung sejak masa kecilnya, sehingga di dalam dirinya bermukim ribuan roh
jahat. Dalam pelayanan itu berulangkali berbagai jenis roh jahat merasukinya.
Salah satu roh yang berulangkali merasukinya mengeluarkan bunyi seperti
lenguhan seekor babi hutan yang sedang marah (?)

Berbagai dosa pemuda ta di disangkali melalui doa dalam nama Yesus, tetapi roh
jahat itu masih juga dapat merasukinya. Karena diusir di dalam nama Yesus,
akhirnya dengan marah roh jahat itu mengakui bahwa dia masih dapat merasuki
karena adanya ulos Batak di tempat pelayanan itu berlangsung. Pemuda yang
kerasukan tadi membongkar dan mengeluarkan ulos Batak dari lemari. Padahal
pemuda tadi baru sekali itu saja dibawa ke rumah itu dan tidak mengetahui apa isi
lemari itu. Roh itu menegaskan bahwa ulos Batak itu merupakan tenunan yang
menjadi miliknya. Setelah keberadaan ulos itu disangkali, maka barulah roh jahat
itu keluar dari dalam diri si pemuda.

Pada waktu yang lain, suatu roh yang merasuki pemuda itu menegaskan bahwa
dialah yang mengajarkan adat Batak kepada leluhur orang Batak. Dia memberikan
berbagai kesaktian kepada raja-raja orang Batak dahulu (dengan menyebut nama
yang tidak perlu disebutkan di sini).

Melalui hal dan kejadian di atas, TUHAN meneguhkan hati penulis bahwa upacara
adat bukan merupakan tradisi leluhur belaka. Tradisi itu merupakan suatu upacara
agama yang diilhamkan oleh malaikat iblis kepada leluhur orang Batak. Segala ide,
nilai, ajaran, paradigma, dan norma yang ada dalam upacara adat itu
sesungguhnya berasal dari si iblis, dan TUHAN sangat membencinya. Leluhur kita
telah tertipu karena iblis membungkus jeratannya tersebut dengan memberikan
berbagai ajaran kebaikan dunia yang semu, sepertinya baik, tetapi membinasakan.
Inilah salah satu wujud dari yang dikatakan Alkitab: “Ada jalan yang disangka
orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12).”

B. Peta Roh Sembahan Leluhur

Upacara adat Batak merupakan upacara religius yang menggambarkan
atau memetakan roh sembahan para leluhur. Peta ini dapat terlihat dalam
struktur masyarakat Batak yang disusun dengan prinsip Dalihan Na Tolu (Toba),
Sangke, yang arti hurufiahnya “tungku yang berkaki tiga”. Prinsip ini membagi
status dan peranan seseorang dalam tiga bahagian, yaitu: Hulahula (pihak pemberi
gadis), Dongan Sabutuha (teman seperut/semarga), dan Boru (pihak penerima
gadis). Pada masyarakat Karo disebut Kalimbubu, Senina, dan Berru. Hubungan
dalam Dalihan Na Tolu ditata dalam suatu falsafah: “Somba marhulahula, elek
marboru, manat mardongan tubu” (Bersembah kepada Hulahula, berhati-hati
kepada teman semarga, membujuk, melindungi, mengayomi Boru).

Melalui ketiga kategori ini, setiap orang yang terlibat dalam upacara adat akan
dipisahkan duduknya (parhundulanna) berdasarkan hubungan kekerabatan (tutur)
antara dia dengan Suhut, yaitu pihak yang mengadakan upacara. Pihak hulahula
duduk dalam suatu kelompok khusus, demikian juga pihak Boru dan Dongan
Sabutuha. Kehadiran mereka dalam upacara itu untuk melaksanakan segala
kewajiban dan menerima segala hak yang telah ditentukan di dalam adat (baca:
aturan hidup agama Batak). Setiap unsur dalam Dalihan Na Tolu memiliki hak dan
kewajiban yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Pada tatanan sosial, Dalihan Na Tolu menata hak dan kewajiban antara seseorang
atau sekelompok orang dengan orang atau kelompok lainnya. Setiap orang dalam
masyarakat Batak harus menjalankan perannya sesuai statusnya dalam konteks
upacara adat. Pada suatu upacara dia bisa berperan sebagai Hulahula, sedangkan
pada upacara yang lain bisa berperan sebagai Boru atau Dongan Sabutuha. Setiap
orang Batak akan menduduki ketiga status itu pada saat dan hubungan
kekerabatan yang berlainan. Misalkan si A, terhadap keluarga dari pihak istrinya dia
berstatus Boru, terhadap keluarga dari pihak suami adik/kakak perempuannya
(ito), dia berstatus sebagai Hulahula. Sementara terhadap adik lelaki atau
abangnya dia berstatus sebagai Dongan Sabutuha.

Pada tatanan rohani, Dalihan Na Tolu menggambarkan relasi antara manusia
dengan alam gaib, antara banua tonga dengan banua ginjang. DR.Philip.O.Tobing
dalam bukuny: “The Structure of the Toba Batak Belief in the High God”
(1963:149) menyimpulkan bahwa Batara Guru, Bala (Mangala) Sori, dan Bala
(Mangala) Bulan adalah representasi dari masing-masing Hulahula, Dongan
Sabutuha dan Boru.

Sejalan dengan itu, DR. Annicetus Sinaga, dalam artikelnya pada majalah “Dalihan
Natolu” yang berjudul “Dalihan Na Tolu dijamin oleh Dewata Benua Atas”
menjelaskan bahwa falsafah Dalihan Na Tolu didasarkan pada keyakinan religius
Batak pada masa Hasipelebeguon. Struktur Dalihan Na Tolu menggambarkan
hubungan 3 roh dewa sembahan leluhur yaitu Batara Guru, Mangala Sori (Bala
Sori), dan Mangala Bulan (Bala Bulan). Dengan demikian, Dalihan Na Tolu
merupakan tatanan rohani yang dimulai dari dunia atas (banua ginjang) dan harus
diberlakukan di bumi.

Hulahula merupakan personifikasi dari Batara Guru, Dongan Sabutuha personifikasi
dari Mangala Sori dan Boru merupakan personifikasi dari Mangala Bulan. Struktur
ini merupakan pola yang menata hubungan di dunia atas dan ditetapkan oleh
Mulajadi Nabolon untuk juga diberlakukan di dunia manusia (banua tonga).
Struktur ini dibangun dan dijamin keberadaannya oleh dewa tertinggi Batak, yaitu
Debata Mulajadi Na Bolon. Sehingga struktur itu merupakan kehendak Debata
(malaikat iblis sembahan leluhur Batak) bagi manusia, dalam hal ini bagi orang
Batak.

Pelanggaran struktur ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Debata
Mulajadi Na Bolon, dan merusakkan keseimbangan antara alam makrokosmos
dengan alam mikrokosmos. Karena itu, pelanggaran ini akan mendapatkan sanksi
dari debata sendiri. Ketakutan akan hukuman Debata Mulajadi Na Bolon ini
tertanam di hati orang Batak sehingga mereka tetap berupaya mempertahankan
keberadaan upacara adat Batak.

Dalam struktur ini, eksistensi roh sembahan leluhur di alam gaib atau banua
ginjang direfleksikan atau dipersonifikasikan di alam fisik (dalam kehidupan
manusia) atau banua tonga di dalam ketiga unsur Dalihan Na Tolu yang
membangun suatu upacara adat, yaitu Hulahula, Dongan Sabutuha, dan Boru.
Kehadiran ketiga roh sembahan lelu hur dalam suatu upacara dinyatakan dalam
kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu. Setiap upacara yang dilakukan harus
dihadiri oleh ketiga unsur ini, kalau tidak, maka upacara adat tidak dapat
dilaksanakan. Inilah ketetapan yang telah dibuat oleh Mulajadi Nabolon.

Jadi struktur Dalihan Na Tolu merupakan proyeksi dari eksistensi ketiga dewa
sembahan leluhur Batak yang ada di dunia atas (banua ginjang). Manusia sebagai
pelaku upacara adat adalah sarana yang dijadikan untuk memproyeksikan
eksistensi dan peranan roh sembahannya. Selama upacara adat Batak dilakukan,
ketiga dewa tersebut tetap mendapat tempat untuk diproyeksikan eksistensinya
dalam kehidupan bangsa Batak, sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang
beragama Kristen.

Hal ini terjadi karena banyak orang Batak Kristen tidak pernah mengetahui arti
rohani yang sesungguhnya dari struktur Dalihan Na Tolu itu, dan menganggap
Dalihan Na Tolu itu hanya sebagai pengklasifikasian dari status dan peranan sosial
dari anggota masyarakat saja. Kita tidak pernah me nyadari, bahwa melalui struktur
itu iblis memanipulasi diri kita untuk kepentingan dirinya.
Gambar dibawah ini menjelaskan uraian di atas:



Sebuah tungku sering harus diberikan suatu ganjal untuk mengokohkan dan
menahan beban di atasnya. Ganjal itu merupakan unsur yang melengkapi ketiga
unsur Dalihan Na Tolu, dan disebut dengan Sihal-sihal. Pemahaman seperti itu
disebut dalam istilah Batak “Dalihan Na Tolu, paopathon sihal-sihal”. Sihal-sihal
melambangkan Debata Asiasi, yang di dalam religi Batak berperanan sebagai dewa
yang membantu manusia di dalam berhubungan dengan dunia para dewa.
Peranan sihal-sihal diberikan kepada ale -ale (teman sekampung, dongan sahuta).
DR.P.O.Tobing juga menjelaskan bahwa eksistensi keempat dewa Batak
disimbolkan dalam “Suhi Ampang na Opat”, yaitu sebuah bakul yang bersegi
empat, yang dibawa oleh pihak parboru untuk pihak paranak, dalam upacara
pernikahan.



Hadirnya seluruh unsur Dalihan Na Tolu dan sihal-sihal merupakan lambang dari
kehadiran para roh sembahan leluhur dalam acara itu. Jadi setiap orang atau
kelompok yang hadir dalam suatu upacara adat sedang menggambarkan, atau
memetakan eksistensi dari para roh sembahan leluhurnya pada masa penyembahan berhala. Hulahula memetakan eksistensi Batara Guru, Dongan Sabutuha memetakan eksistensi Mangala Sori, dan Boru memetakan eksistensi dari Mangala Bulan. Semuanya memetakan eksistensi dari Mulajadi Nabolon, sebagai dewa tertinggi orang Batak. Peta kemuliaan Mulajadi Nabolon di alam gaib (banua ginjang) dinyatakan dalam ketiga putranya. Peta kemuliaan Mulajadi Nabolon didunia (banua tonga) dipetakan oleh orang-orang yang hadir dalam upacara adat,yaitu seluruh unsur pembentuk Dalihan Na Tolu.

Pada sisi lain, karena setiap orang memiliki ketiga status Dalihan Na Tolu, maka
setiap pelaku upacara adat Batak merupakan “Peta Tiga Roh Sembahan Leluhur”
atau “Peta Mulajadi Nabolon”. Waktu berperan sebagai hulahula dia memetakan
Batara Guru, sebagai Dongan Sabutuha dia memetakan Mangala Sori, dan sebagai
Boru dia memetakan Mangala Bulan. Sehingga sebagai suatu pribadi, dia sedang
memetakan ketiga dewa tadi. Karena itu, setiap pelaku upacara agama Batak
dibentuk secara rohani menjadi “Peta Tiga Dewa Batak” atau “Peta Mulajadi
Nabolon” atau lebih tegas lagi “Peta Iblis”.



Upacara adat merupakan sarana yang diciptakan iblis sebagai jalan masuk untuk
menguasai kehidupan orang Batak.
Upacara adat merupakan landasan atau jalan
masuk yang diciptakan oleh iblis (yang bernama Mulajadi Nabolon dengan tiga roh
pembantunya) untuk secara sah (legitimated) hadir di masyarakat Batak.
Kehadiran seluruh roh sembahan itu sangat penting artinya bagi leluhur Batak,
dalam upaya mendapatkan berkat demi tercapainya segala yang dicita-citakannya,
baik selama hidup di dunia, maupun setelah manusia itu meninggalkan dunia ini.



Mereka menyadari bahwa bantuan para roh sembahan itu sangat penting untuk
mencapai segala tujuan hidupnya. Tanpa bantuan dari roh sembahan itu, sangat
sulit bagi mereka untuk mencapai segala yang dicita-citakannya. Tanpa dukungan
dari kekuatan ketiga roh sembahan itu, maka aktivitas upacara itu tidak
memberikan manfaat apapun bagi pelakunya. Keberhasilan hidup orang Batak
sangat tergantung kepada dukungan kuasa dan berkat dari para roh sembahannya.
Manusia hanya dapat melihat kehadiran dari pelaku upacara adat itu saja,
sementara kehadiran para roh sembahan itu tidak dapat dilihat dengan mata
jasmani.

Kehadiran Batara Guru yang tidak dapat dilihat dinyatakan dengan kehadiran
Hulahula yang dapat dilihat. Demikian juga halnya dengan kehadiran Mangala Sori
dan Mangala Bulan yang tak terlihat dinyatakan dengan kehadiran Dongan
Sabutuha dan Boru. Namun demikian, terlihat atau tidak, disadari ataupun tidak
oleh pelakunya, dengan kehadiran seluruh unsur pelaku dalam upacara adat, maka
jalan masuk bagi kehadiran para roh itu telah dibuka. Kehadiran para roh
sembahan itulah yang akan menentukan kesuksesan suatu upacara adat dan
menjamin perolehan segala keinginan si empunya pesta. Benarlah apa yang
dikatakan oleh seorang ahli etnografi bernama E.M. Loeb (1935) bahwa kebiasaan
adat yang dijumpai pada orang-orang Timur, merupakan “ghost sanctioned
custom” (kebiasaan yang disahkan oleh roh-roh). Adat sebagai rangkuman tradisi
adalah juga penjelmaan hakiki dari agama suku.

Setiap roh sembahan dalam religi atau agama apapun di dunia memiliki syaratsyarat
tersendiri yang ditentukannya bagi kehadiran roh itu ditengah-tengah umatnya. Kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu merupakan prasyarat yang dibuat dan ditetapkan oleh iblis bagi kehadirannya dalam kehidupan religius bangsa Batak. Demikian juga, Injil memberitakan kita syarat-syarat khusus, yang berbeda dengan religi lain bagi perkenanan kehadiran TUHAN di dalam hidup umat-Nya.

Tiga roh sembahan Batak yang dipersonifikasikan dalam Dalihan Na Tolu
merupakan putra Mulajadi Na Bolon. Ketiganya merupakan pancaran kemuliaan
dari Mulajadi Nabolon. Karena itu, upacara adat Batak merupakan aktivitas religius
yang dilakukan di dalam dan demi nama Mulajadi Nabolon, debata yang tertinggi.
Karena itu, dalam setiap gondang dan tortor yang dimainkan, hal yang pertama
yang dilakukan adalah menyampaikan (mangalu-aluhon) acara itu kepada Mulajadi
Nabolon melalui pukulan gendang pargonsi. Pukulan gendang itu memiliki irama
khusus dan berbeda dari pukulan gendang lainnya. Gerakan tortor yang
pertamapun ditujukan kepada Mulajadi Nabolon dengan nama gerakan sombasomba.

Karena setiap pihak yang hadir dalam upacara adat menggambarkan eksistensi dari
roh-roh sembahan leluhur, maka acara itu merupakan aktivitas religius yang
membawa nama dan kemuliaan bagi para roh sembahan leluhur. Hulahula
membawa nama Batara Guru, Dongan Sabutuha membawa nama Mangala Sori dan
Boru membawa nama Mangala Bulan. Karena ketiganya merupakan pancaran dari
kemuliaan Mulajadi Nabolon, maka otomatis upacara adat membawa nama dan
kemuliaan bagi dewa tertinggi leluhur Batak, yaitu Debata Mulajadi Nabolon. Tanpa
disadari, pelaku upacara adat merupakan alat Mulajadi Nabolon untuk memuliakan
dirinya.

“Peta Mulajadi Nabolon” juga merupakan tanda rohani yang dibuat oleh iblis bagi
kepemilikannya atas orang Batak dihadapan TUHAN. Tanda itu merupakan stempel
atau meterai kepemilikan iblis atas setiap orang yang melakukan upacara adat.
Peta iblis itu merupakan jalan masuk bagi kehadiran dan pengendaliannya atas
hidup orang Batak. Tanda itu merupakan dasar rohani yang kokoh bagi iblis untuk
mengklaim kepemilikannya atas orang Batak. Karena itu, kehadiran roh sembahan
leluhur dalam hidup setiap orang Batak, merupakan pengambil -alihan posisi TUHAN
dalam hidup manusia. Posisi TUHAN digantikan oleh kehadiran ketiga roh
sembahan leluhur itu. Semuanya terjadi tanpa disadari oleh para leluhur maupun
orang Kristen yang terlibat dalam upacara adat.



Alkitab menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah milik
TUHAN. Tanda meterai kepemilikan Tuhan diberikan dalam bentuk kehadiran Roh
Kudus di dalam hatinya.
”Di dalam Dia (Yesus) kamu juga, karena kamu telah mendengar firman
kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika
kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya
itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita
memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik
Tuhan, untuk memuji kemuliaan-Nya”. (Efesus 1:13)
tanpa disadari, keterlibatan seseorang Kristen dalam upacara adat akan membuka
ruang di hatinya bagi kehadiran para roh sembahan leluhur dahulu kala.
Penerimaan akan kehadiran roh sembahan leluhur akan membuat Roh Kudus
mengundurkan diri dari dalam hidup orang itu. Roh Kudus adalah roh yang lemah
lembut yang tidak pernah mau memaksakan kehadiran dan keinginannya kepada
manusia. Roh Kudus juga amat peka akan kekerasan hati manusia untuk tetap
menerima kehadiran roh-roh lain di luar diri-Nya. Dia tidak pernah mau menerima
sikap hati yang menduakan Tuhan di hati manusia. Kalau manusia bersikeras untuk
melakukannya juga, walaupun sudah diperingatkan-Nya, maka Ia segera akan
mengundurkan diri secara diam-diam, sama seperti kemuliaan TUHAN yang
meninggalkan bait TUHAN di Yerusalem.

Kehadiran roh sembahan leluhur itulah yang akan mendorong seseorang dari dalam
hatinya untuk kembali dan terus melakukan berbagai upacara adat lainnya. Dengan
demikian terjadi penguatan ikatan rohani dengan roh itu. Penguatan ini akan
menjadi suatu belenggu kuat iblis untuk mengendalikan pribadi dan tingkah laku
orang Batak. Sehingga orang itu akan menjadi seseorang yang sangat memegang
kuat adat Batak, dan sangat sulit bagi dia untuk keluar dari paradigma adat itu.
Hanya kuasa anugerah Yesus yang mampu melepaskannya. Belenggu yang kuat
inilah yang merupakan salah satu bentuk pertahanan iblis untuk mempertahankan
“tahta kemuliaannya” di tengah-tengah bangsa Batak.

Kehadiran roh inilah yang akan membuat seseorang akan menjadi marah dan kalap
ketika masalah upacara adat ini dibukakan. Tingkah laku dan ucapannya segera
akan menjadi tidak terkontrol. Dari mulutnya akan keluar kalimat-kalimat yang
memaki, menghina, mengutuk, kasar, dan kotor yang tidak sepatutnya diucapkan
oleh seorang Kristen. Kebencian orang itu akan menjadi sangat besar terhadap
orang yang membukakan masalah upacara adat berdasarkan Injil Kristus yang
murni. Mereka akan sangat marah dan dibenci terhadap orang-orang yang tidak
mau lagi melakukan upacara adat.

Pengalaman penulis dan rekan-rekan yang berkomitmen kepada TUHAN untuk
keluar dari upacara adat Batak menunjukkan betapa gampangnya orang-orang
Batak yang terikat kuat dengan Mulajadi Nabolon menjadi marah, kalap dan
mengucapkan kalimat kotor, ketika Firman Tuhan dibukakan yang berkaitan
dengan adat Batak. Kemarahan itu berasal dari kemarahan roh yang ada di dalam
dirinya yang rahasianya diungkapkan, kemudian memanfaatkan pribadi orang yang
diikatnya itu untuk menyerang setiap musuhnya. Pikiran dan emosi orang itu telah
dirasuki oleh roh-roh jahat sembahan leluhur, pemberi ilham adat Batak.

Dalam pernikahan, berapa banyak orang tua Batak yang mengeraskan hati untuk
tidak hadir dalam pernikahan anaknya, karena tidak dilangsungkan upacara agama
Batak. Kasih mereka akan Tuhan dan anaknya segera sirna, ketika adat itu
diabaikan. Mereka mengabaikan tanggung jawab sebagai orang tua dihadapan
Tuhan untuk membawa anak mereka ke hadapan Tuhan dan menjadi saksi
pernikahan kudus itu. Tuhan tidak pernah menyuruh orang tua untuk menikahkan
anaknya dengan cara lain di luar Firman-Nya, apalagi dengan upacara agama
sembahan leluhur Batak. Mereka lebih mencintai adat Batak jauh melebihi Yesus
Kristus. Padahal mereka tahu hukum Tuhan yang terutama:
“Kasihilah Tuhan, Bapamu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap
jiwamu, dan dengan segenap akal budimu”. (Matius 22:37)
Seorang Ibu menceritakan pengalamannya ketika seorang anak kakaknya
meninggal dunia. Karena mau mentaati Firman Tuhan, dia dan keluarga
kakaknya itu bersepakat untuk tidak menguburkan anaknya tadi secara
adat, cukup dengan upacara gereja. Ibu itu merupakan seorang penatua
dari salah sebuah gereja Batak yang masih melakukan sinkretisasi agama
Batak dengan Injil. Akibatnya, kaum keluarga mereka yang ada di
kampung itu menjadi marah, dan tidak mau ambil bagian dalam
penguburan. Beberapa orang ada yang melempari rumah keluarga yang
kemalangan itu dengan batu. Bahkan ibu itu dan seorang anggota
keluarganya terpaksa harus meninggalkan kampung itu setelah
penguburan, karena mendapatkan informasi ada orang (masih famili
mereka) yang telah bersiap-siap untuk membunuh mereka. Tingkah laku
mereka menjadi sama dengan sifat roh setan, yang menjadi sembahan
leluhur itu. Karena saat itu, mereka telah dirasuki oleh Mulajadi Nabolon.

Hal itu sangat tidak wajar, karena iblis sangat tidak ingin rahasianya dibongkar oleh
Firman Tuhan. Iblis tidak rela tahta persembunyiannya dalam kehidupan orang
Batak terbongkar. Dia akan mempertahankan tahta itu dengan sekuat tenaganya.
Siapapun yang dikuasainya akan dimanfaatkan untuk menakut-nakuti,
mengancam, memaksa dan bahkan mungkin untuk membunuh siapapun yang
membuka rahasia persembunyiannya.

bersambung.........
Senin, 04 April 2011

2
Ada apa didasar Laut ?


1-MISTERI MAKHLUK DASAR LAUT




Kisah-kisah tentang raksasa laut yang diceritakan oleh para pelaut tidak pernah dipandang dengan serius. Dua per tiga dunia ditutupi air. Ini adalah area yang luas untuk ditinggali dan juga tidak bisa dijangkau manusia. Tidak dipastikan apakah nanti laut akan memperlihatkan dirinya seperti akuarium kepada ilmuwan. Jika ini terjadi kita akan bisa melihat gua-gua laut ditinggali sesuatu seperti apa yang kita baca hanya di buku-buku fantastis. Tapi untuk sementara waktu ini, kita hanya bisa membuat perkiraan mengenai kehidupan laut sebenarnya berdasarkan sedikit bukti yang diperlihatkan oleh laut dari waktu ke waktu kepada kita.

April beberapa tahun lalu, cumi-cumi sepanjang 15 meter terdampar di Kanada; sebuah trailer dipakai untuk memindahkan moluska raksasa itu. Cumi-cumi ini dikirimkan ke pusat penelitian di mana para ahli mengukur tentakel dan menyimpulkan bahwa ini adalah moluska jenis baru yang belum dikenal oleh ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menghabiskan jutaan dolar untuk menangkap atau paling tidak mengambil foto moluska raksasa yang tinggal di kedalaman laut. Tetapi, tidak ada hasil apa pun dari ekspedisi mahal ini. Tidak satu peneliti pun melihat raksasa cephalopoda hidup, hanya ada yang mati terdampar di pantai.

Pelaut beberapa kali menyatakan mereka melihat cumi-cumi raksasa hidup. Cerita ini dianggap seperti dongeng pelaut mabuk. Orang-orang tahu bahwa pelaut menceritakan cerita luar biasa bukan tentang moluska raksasa.

Pada 1955, sebuah koran Kanada mempublikasikan cerita misterius yang didapat dari pelaut. Sebuah kapal yang berlayar menambrak sesuatu yang aneh. Setelah berpisah jauh, benda itu terlihat seperti bukan ikan hiu busuk atau ubur-ubur raksasa mengambang di permukaan air. Ketika kapal mendekati benda itu, pelaut John Squires bersandar di papan untuk mengait benda itu.

Tetapi setelah pengait besi menyentuh benda seperti ubur-ubur itu, sebuah tentakel besar ke luar darinya. Pelaut itu ketakutan dan terjatuh di dek. John kaget dan wajahnya pucat pasi. Dua anggota awak kapal harus menolong dia ke kabin di mana dia menunggu sampai tiba di pelabuhan. Cerita ini muncul tidak jauh dari lokasi tempat moluska besar terdampar musim semi lalu. Pelaut itu sangat terpukul hingga Joh Squires tidak pernah melaut lagi sejak hari itu.

Apa yang diketahui orang tentang monster cephalopoda? Hampir tidak ada dan jika ada yang tahu, hanya tahu sedikit sekali. Cephalopoda besar hidup di kedalaman sekitar 2.000 meter. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya berenang dan terus bergerak. Kita bisa memperkirakan ukuran cephalopoda besar melalui ukuran mata dari cumi-cumi besar yang disimpan di musium Amerika sekarang. Mata dari cumi ini berdiamater 40 sentimeter yang hampir sebesar bola basket. Mata ini diambil dari perut hiu besar yang dibunuh oleh pemburu hiu. Cumi adalah makanan favorit dari hiu besar. Biasanya mereka makan cumi yang lebih kecil 4-6 kg dan menelannya dalam kelompok, ketika hiu besar menunjukkan kekuatan mereka. Sebagian besar kasus, kata ilmuwan, hiu adalah pemenangnya dan memakan musuhnya.

Ada lagi satu misteri, baru-baru ini, peneliti Jepang melakukan eksperimen menarik di Teluk Suruga, tidak jauh dari Mariana Trench, tempat paling dalam di samudera dunia. Para peneliti meletakkan sebuah kontainer dengan umpan berbau di dasar teluk. Video kamera khusus ditempelkan di dinding kontainer, lalu peneliti tersebut memperhatikan monitor untuk melihat apa yang akan terjadi dengan kontainer dan umpannya.

Bau dari umpan menarik sekelompok hiu yang tinggal di kedalaman laut. Kemudian peneliti melihat sesuatu yang luar biasa yang membuat mereka tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba hiu-hiu itu lari ke segala penjuru dan para peneliti melihat monster yang sangat besar di layar monitor mereka. Raksasa itu dengan gerak lambat menjauh dari kamera video di kedalaman 1,5 kilometer. Panjang Goliat laut itu lebih dari 60 meter. Tidak jelas raksasa itu apa.

Para peneliti gagal menjawab pertanyaan, hanya bisa menduga makhluk apakah itu. Mereka mengatakan itu mungkin hiu tidur, hiu paling besar. Sampai sekarang orang hanya tahu sedikit fakta tentang hiu ini. Mereka selama ini bersembunyi di kedalaman laut selama jutaan tahun. Orang-orang tidak pernah melihat hiu-hiu tidur hidup dan cumi raksasa. Hanya sekali, pada 1964, beberapa hiu tidur mati terdampar di Indonesia. Itu cuma hiu muda terlihat dari ukurannya yang hanya 26 meter.

Sekarang mari kita pergi ke Skotlandia, Danau Loch, rumah dari satu lagi monster misterius yang dipanggil orang Nessy. Ada sejumlah laporan mengatakan banyak orang melihat monster misterius. Setiap tahun media melaporkan banyak bukti dari saksi mata yang bertemu dengan warga sekitar. Perusahaan Skotlandia mempergunakan kesempatan untuk mencetak banyak uang dari hadiah aneh dari alam ini. Toko kecil dekat danau menjual bertumpuk cindera mata, buku panduan dan barang kerajinan tangan lainnya dengan gambar Nessy. Orang lokal mematok tarif yang sangat masuk akal untuk mengantar anda melalui rute tempat orang lain mengatakan pernah melihat monster itu.

Masih ada skeptisme yang mengatakan monster danau itu hanya imajinasi. Mereka meminta untuk menceritakan spesimen dari monster danau dan mengatakan paling tidak mereka ingin menyentuh mayatnya, setelah itu mereka baru mau percaya fenomena ini benar-benar ada.

Mari kita tinggalkan skeptisme ini. Di tahun 1966, seorang pilot Royal Air Force memberikan pernyataan bahwa monster laut itu ada. Mereka merekam sebuah kejadian dimana salah satu dari makhluk itu menyeberangi danau Loch. Ketika para ahli mempelajari rekaman itu mereka menyimpulkan bahwa ini adalah makluk hidup. Ketika monster itu menyeberangi danau; gerakannya membentuk huruf “V” di permukaan danau. meskipun orang skeptis dan mengatakan ini hanya bongkahan kayu, yang mana pastinya bukan. Bongkah kayu tidak mengapung dalam kecepatan seperti ini.

Diduga bahwa monster Danau Loch adalah presiosaurus hidup. Tidak dipastikan apakah sekelompok presiosaurus hidup di danau dan menganggu para turis dari waktu ke waktu (atau mungkin para turis mengganggu makhluk ini?) Mungkin saja makhluk prasejarah ini bertahan hidup dalam jutaan tahun? Ini adalah hal yang mungkin karena kura-kura, buaya dan hiu hidup di era yang sama dengan presiosaurus dan masih bertahan hingga hari ini.


2-DUYUNG

Ada banyak kisah duyung dari Jepang, namun kisah yang satu ini berbasis pada legenda kuno 1.400 tahun lalu. Satu kisah yang berasal dari kisah kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang.

Di salah satu Kuil Shinto di Fujinomiya tersimpan sebuah mummi duyung setinggi 170 cm berusia 1.400 tahun. Ini merupakan salah satu mumi duyung tertua dan terbesar yang kini masih tersimpan di Jepang.

Dari bentuknya mummi duyung berpenampilan menyeramkan, berkepala besar, bundar, dan botak, hanya sejumput rambut yang tumbuh di depan kepala sampai ke hidungnya. Mata dan mulutnya tampak terbuka. Ia memiliki sepasang tangan dengan kuku yang tajam (20 cm).

Setengah tubuh bagian atas menyerupai manusia dan setengah bagian di bawah menyerupai ekor ikan. Namun, struktur tulangnya tidak diketahui pasti bagaimana bentuknya karena belum pernah diteliti.

Legenda mengenai duyung monster ini muncul pada masa Putra Mahkota Jepang Shotoku (Shotoku Taishi) di tahun 574-622 Masehi. Saat itu Shotoku berjalan melintas tepian Danau Biwa. Saat ia menyepi tiba-tiba muncul sesosok monster dari dalam danau yang berseru pada Shotoku bahwa ia adalah seorang nelayan yang dikutuk menjadi monster duyung bertubuh setengah orang setengah ikan, karena perbuatan di masa lalunya yang sering membunuh hewan untuk disantap.

Ia mengaku baru memahami kekeliruannya dan berharap agar ia menjadi peringatan bagi seluruh manusia agar tidak melakukan pembunuhan terhadap satwa. Pesan ini disampikan untuk dunia di masa depan. Karena itu monster tersebut minta agar ia (setelah mati nanti) dikeringkan dan ditempatkan disebuah kuil sebagai peringatan bagi umat manusia.

Setelah menyampaikan pesan-pesan itu monster duyung itu kemudian meninggal. Shotoku kemudian merenungkan ucapannya itu dan mengeringkan duyung tersebut menjadi mummi. Sesuai permintaan sang duyung, putra mahkota mendirikan sebuah kuil untuk mummi sang duyung.

Selama 1.400 tahun mummi ini berpindah-pindah tangan sampai akhirnya ditempatkan di Kuil Shinto di Fujinomiya hingga kini. Keberadaan mummi ini dihubungkan dengan kepercayaan yang berpantang membunuh satwa alias hidup ala vegetarian.

"Duyung-duyung" yang Nyata
Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan. Namun berdasarkan telaah ilmiah di beberapa perairan yang di masa lalu duyung sering dikisahkan, justru memang dihuni hewan-hewan spesial.

Beberapa hewan spesial itu hingga kini masih hidup di perairan tawar atau asin. Hewan-hewan inilah yang sering disalahtafsirkan sebagai duyung. Mungkin karena kebiasaan hidupnya, bentuknya dan performanya yang memang mirip. Apalagi bila dilihat dari kejauhan.

Hewan-hewan ini dikenal sebagai "dugong", "manatee" dan "sapi laut (sea cow)". Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di lingkungan perairan yang berbeda. Tergolong sebagai mamalia yang suka menyusui dan berjemur di batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang.

Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan pantai Papua, dan kepulauan lain di Pasifik. Dugong berwarna cokelat kelabu, tubuhnya sepanjang 2,7 meter dan mampu hidup sampai usia 70 tahun.

Manatee. Ada tiga jenis manatee yang sudah dikenal. Ada yang hidup di perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan.

Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai Amazon. Manatee ini ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter.

Sapi Laut (sea cow). Pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada 1741 di dekat Pulau Commander di Laut Bering. Sapi laut biasanya suka hidup di perairan dangkal dekat pantai. Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polka dot samar.

Ketiga hewan air yang menyusui anaknya ini termasuk dalam kelompok ordo (grup) hewan mamalia air yang disebut sirenia.

Penamaan kelompok mamalia air ini dibuat para ilmuwan berdasarkan kepercayaan kuno (mitologi) bahwa hewan-hewan sirenia inilah yang dulu diyakini para pelaut sebagai sirens atau duyung.

Legenda Duyung, Makhluk Setengah Manusia Setengah Ikan
Selama ribuan tahun duyung telah menjadi legenda. Dipercaya sebagai perwujudan makhluk setengah ikan setengah manusia. Dari belahan bumi barat hingga timur, utara dan selatan. Kisah-kisah duyung mewarnai khazanah mitologi dan misteri dari lautan.

Berdasarkan legenda duyung adalah makhluk air yang setengah tubuhnya manusia dan setengah lagi ikan. Bagian pinggang ke atas biasanya berbentuk tubuh perempuan cantik dan pinggang ke bawah tertutup sisik seperti ekor ikan besar. Kisah mengenai duyung ini hampir sama atau serupa di belahan bumi mana pun, karena itu ia menjadi klegenda yang universal.

Ditinjau dari mitologi Yunani, duyung dipercaya sebagai si cantik penggoda pelaut. Siapa yang tergoda rayuan sang duyung ia akan menemui ajalnya. Namun masyarakat Babilonia menganggap duyung sebagai dewa laut yang disebut sebagai Ea atau Oannes. Namun duyung ini adalah jantan.

Mitologi kuno lain (Yunani dan Romawi) juga menyebut bahwa duyung adalah makhluk yang menyertai dewa-dewa laut semacam Poseidon, Neptune dan Triton. Duyung-duyung ini umumnya berupa makhluk bertubuh perempuan dengan paras cantik jelita, berdada montok, bercahaya, namun dari pinggang ke bawahnya seperti ekor ikan.

Duyung pertama kali muncul dalam mitologi di Assyria (1000 SM). Atargatis, ibu dari ratu Assyria, Semiramis, adalah dewi yang mencintai seorang gembala namun kemudian ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu ia berubah menjadi duyung.

Lalu pada masa 500 SM, kisah duyung terdengar lagi dari seorang filsuf dari Ionia (wilayah Yunani) bernama Anaximander. Ia berpendapat bahwa manusia berasal dari satu spesies hewan air. Teori ini kemudian disebut sebagai evolusi hewan air ke manusia. Pendapatnya ini di-anggap sebagai pembenaran bahwa duyung adalah hewan air yang sedang berevolusi menjadi manusia.

Begitu populernya duyung ini, sehingga tercantum dalam perkamen dan naskah-naskah tua. Bahwa dalam catatan Alexander the Great, sang penguasa Macedonia, (356-323 SM) kisah duyung juga terselip di sana. Saudara perempuan Alexander bernama Thessalonike disebutkan berubah menjadi duyung setelah kematiannya.

Legenda dan kisah duyung ini tersebar ke mana-mana. Dikisahkan oleh para pelaut dan penjelajah samudera. Umumnya duyung digambarkan sebagai perempuan cantik berekor ikan, berambut panjang, bersuara merdu, suka berjemur di karang dan tepi pantai. Namun tak ada bukti pasti mengenai eksistensinya. Kecuali pertinggal dalam bentuk sketsa kuno dan tergambar di mata uang kaum Corinthian (Yunani).

Namun ada sebuah buku bertahun 1718 yang terbit di Amsterdam Belanda, yang mengupas soal kehidupan aneka satwa di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar. Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung:

"Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia).

Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut."

Agaknya duyung memang masih misteri. Dipercaya ada, namun bukti yang terlihat sampai kini tak pernah pasti soal wujud duyung yang ada legenda. Para ahli bahkan menyimpulkan bahwa kemungkinan duyung itu adalah mamalia air yang dikenal sebagai dugong, manatee dan sea cow (Sapi laut), yang disalahtafsir oleh pelaut masa lalu.

Dongeng Duyung yang Tersohor
Walau sempat ditakuti oleh banyak pelaut, ternyata kisah soal duyung justru menarik pula bagi anak-anak. Satu dongeng tentang duyung yang terkenal adalah buah karya pendongeng dunia Hans Christian Andersen.

Karya Andersen yang berjudul "The Little Mermaid (1836)" menjadi satu dongeng paling populer soal duyung dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bahkan kisah ini sudah difilmkan dalam versi kartun dengan judul yang sama oleh Walt Disne, namun dengan sedikit pengubahan di bagian akhirnya.

Versi asli Andersen, mengadaptasi kisah yang menjadi patron tentang duyung yang selalu berakhir dengan kesengsaraan. Berkisah soal duyung yang terobsesi dengan kehidupan di darat dan tertarik pada seorang pangeran. Untuk bisa berubah menjadi manusia ia harus rela kehilangan suaranya (bisu). Namun setelah menjadi manusia, sang pangeran tak membalas cintanya karena ia bisu. Akhirnya sang duyung tak bisa menikmati hidup dan berputus asa.

Untuk mengenang dongeng Hans Christian Andersen yang tersohor ini, patung Little Mermaid dibangun di pelabuhan di Copenhagen, Denmark. Patung itu menjadi icon kota pelabuhan itu. (berbagai sumber)

0
Bendera Indonesia punya makna.

"6.000 Tahun Sang Saka Merah Putih"
Prof Moh Yamin



• Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna "zat hidup". Hanya tidak dijelaskan makna "zat hidup". Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.

• Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat. Artefak- artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropologi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.

• Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia. Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?

• Alam rohani dan duniawi
Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana,lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural. Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.

• Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.

Pemisahan "lelaki"-"perempuan" itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau "zat hidup" baru muncul jika pasangan-pasangan dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.

• Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal. Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.

• Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci. Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia. Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.

• Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai pasangan dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama Samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini.

• Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang. "Putih" adalah simbol langit atau Dunia Atas, "Merah" sim- bol dunia manusia, dan "Hitam" simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.

• Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah. Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia "buta warna".

• Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.

• Kehidupan dan kematian
Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, "darah tidak sama", ada darah putih dan darah merah. Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.

• Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian. Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung "zat hidup".

• Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan?Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan. Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.

• Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia. Merah-putih itu "zat hidup", potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh . Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.

• Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa? Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya.
Merah-Putih adalah jiwa Indonesia....

Sri Sultan Hamengkubuwono X



Bendera Merah-Putih, menurut Sultan, memiliki urutan sejarah yang panjang. Bukan hanya produk 17 Agustus 1945, melainkan produk sejak abad XII saat zaman Sriwijya di Palembang dan Singasari sampai ke zaman Mataram, yang dikenal dengan sebutan bendera "Gula Klapa". Bagi orang Jawa, lanjut Sultan, bendera Merah-Putih tak ubahnya seperti sebuah keris, yang merupakan personifikasi atas diri pemiliknya. Untuk itu kemudian muncul kepercayaan, bendera Merah-Putih tidak boleh diletakkan di tanah. "Meskipun sebetulnya tidak apa-apa, tapi orang Jawa jelas tidak akan melakukan itu. Apalagi kalau Merah-Putih dibakar," ujarnya.
Sedangkan dalam masyarakat Jawa pada acara Slametan, Tumpengan dan hajatan khusus, ada sajian Bubur Sengkala (Bubur ketan Merah - Putih ) terdiri : Bubur Putih, Bubur Merah, Bubur Putih di tengahnya Merah, Bubur Merah di tengahnya Putih. Mengandung Filosofi: sama seperti diutarakan di atas, Putih artinya asal kehidupan, yakni sebelum manusia lahir berasal dari Sana, Kemudian ada Dunia/Bumi (merah) tempat manusia lahir, melalui pertemuan "Bapak" dan "Ibu" kita ada ,simbolnya Putih yang dalamnya Merah (waktu Ibu mengandung ada titik merah/janin kita, kemudian ketika kita lahir jadi manusia didalam kita ada roh suci, disimbolkan : Merah dalamnya Putih.
Jika di Tiongkok telah dikenal symbol YIN YANG sejak ribuan tahun silam , yang artinya kurang lebih mirip dengan Merah Putih, maka bangsa kita juga mempunyai simbol Merah Putih, artinya bangsa Indonesia mempunyai pandangan holistik, tentang Makrokosmos dan Microkosmos Kehidupan yang sangat religius yang sangat nyata ditulis oleh Alam .
Maka memahami Merah putih, berarti memahami makna filosofis yang dalam mengenai Makna Kehidupan yang menjadi Simbol, Spirit, Jiwa bangsa Indonesia.

Dikutip dari beberapa sumber.
 
TOGA LAUT PARDEDE | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog